Bar: 14

Leave a comment

Kita di hari ini terbuat dari percakapan kita terdahulu.

Bagaimana gestur dan cara mata ini memandang adalah bentukan dari ribuan kata yang telah kita tukar.

Sejarah hati kita… adalah kumpulan kesan dan persinggungan romantik.

Hutan

Leave a comment

Manusia tinggal dan hutan-lah yang mengelilinginya. Apapun masanya, di manapun negerinya, siapapun presidennya, hutan selalu ada saat manusia bersemayam. Warna hutan itu mungkin tak selalu hijau. Kicau burungnya juga bisa jadi berubah. Namun layaknya rimba, hutan selalu punya nyanyiannya di pagi, petang, dan malam.

Jika manusia mau berehat sejenak dan mendengarkan dengan seksama, maka mereka akan tahu bahwa tiap nyanyian itu adalah milik para penghuni hutan yang berbeda. Di pagi hari, misalnya, kicauan khas milik burung nuri akan terdengar dengan nadanya yang riuh dan panjang. “Sayuur..”, kicaunya. “Sayuuur…”, ulangnya dari satu dahan ke dahan yang lain. Kadang kalau si nuri sudah malas, tinggal yuur-nya saja yang sampai ke telinga.

Beda lagi dengan kicauan burung murai. Ia tak mengandalkan pita suara seperti halnya burung nuri. Alih-alih bernyanyi, burung murai akan memencet-mencet terompet klakson pada gerobak roti miliknya. “Ngik ngok…ngik ngok..” Entah kenapa bunyi yang seperti anak kena asma itu selalu mengingatkan pada roti meises-nya yang kebanyakan mentega.

Cara yang serupa  juga dilakukan oleh burung jalak. Burung jalak akan memukulkan piring ketopraknya dengan sendok hingga nyaring berdenting. Suara nyaring burung jalak ini sangat unik dan dikenal baik oleh yang lain. Tanpa perlu repot-repot berteriak, seantero hutan tahu bahwa bunyi denting piring di pagi hari pastilah dari gerobak ketoprak miliknya.

Saat matahari naik sepenggal galah, semakin banyak penghuni hutan yang berkicau menjajakan kehadirannya. “Loak!” “Koraan!” “Sampaah!” “Es krim medaan!!” Dengan semangat empat-lima, mereka semua mencoba peruntungan masing-masing di belantara yang tak lagi hijau itu.

Tapi ada juga di antara para penghuni hutan itu yang tetap diam dan baru beraksi saat malam menjelang. Tonggeret pohon salah satunya. Di malam hari, tonggeret keluar sambil memukul kentongan bambu miliknya dalam birama 4/4. Kadang bunyinya terdengar jauh, lalu mendekat, lalu hilang sama sekali. Biasanya tak lama setelah ketukan tonggeret menghilang, aroma nasi goreng yang dimasaknya akan menguar sebagai tanda seorang betina telah menyambutnya.

Yang agak menyedihkan mungkin si burung hantu karena ia selalu sendiri. Saat malam sudah lewat jam duabelas, ia baru hadir dengan bunyi puuh pelan sambil memikul kotak kue putunya yang mengepulkan uap. Tak pernah mengerti benar alasan mengapa burung hantu harus menjual kue putu-nya itu di tengah malam. Di tengah malam hanya ngorok kodok-kodok gendut yang terdengar, plus samar-samar suara Remy Sylado berlatih membaca puisinya yang mbeling. Mungkin sebagai penghuni hutan yang sah si burung hantu tak ingin kehilangan haknya untuk berkicau. Berkicau toh tak harus melulu pagi-pagi bukan?

Maka pagi atau malam, semua punya lagu masing-masing. Semua, kecuali mahoni dan beringin. Mereka tidak bernyanyi. Mereka kelewat besar dan bebal untuk mengerti tangga nada. Walaupun begitu, gemerisik daun mereka yang tergesek angin lumayan bikin hati menjadi sejuk. Seperti jemari ibu yang menyelinap sayang di antara garis rambut.

Hutan ini, apapun warnanya, akan selalu berisik dengan makhluk-makhluk tak terlihatnya. Ada nuri, ada murai, ada jalak, ada tonggeret, ada mahoni, ada Remy Sylado di atas pohon. Semua berdendang kendati teralis berdaun kaca menghalangi wajah mereka. Nyanyian mereka tersiar dalam jadwal yang teratur seperti acara radio. Seperti sebuah konser yang tak kenal henti. Ada yang bilang bahwa nyanyian para penghuni hutan itu adalah doa yang mereka panjatkan untuk Tuhan. Semoga benar, karena alangkah indahnya bila demikian.

Kalau saja manusia mau berehat sejenak dan mendengarkan dengan seksama, mereka akan tahu betapa raya hutan yang mengelilinginya.

Jalan Raya Patok Besi, Subang, 17 April 2014

Memoir

Leave a comment

Sekiranya nanti ingatan ini tak lagi setajam dulu namun keinginan untuk berkenang itu datang, rasanya perlu jika sekarang saya menulis tentang mereka. Tentang orang-orang indah di pengasingan. Kawan-kawan tanpa nama. Untuknya, saya akan coba buat tulisan ini menjadi sedeskriptif mungkin. Semoga gambarannya bisa selalu teringat bahkan di hari tua. Persis seperti yang terjadi.

Yang Terjadi terjadi di malam 1 Desember 2013. Udara malam tak berbeda dari udara sore tadi, lembab dan lengket. Ke manapun melangkah rasanya tidak mungkin menghindar dari udara bergaram di pulau sekecil ini. Saya tak punya lagi tempat untuk menghabiskan malam. Sempat berpikir untuk terus berjalan saja ke pelabuhan dan tidur di kapal sesuai anjuran seseorang. Lalu sembari berjalan ke sana, saya temukan ide yang lebih baik dan lebih dekat. Sebuah mesjid.

Mesjid ini masih separuh jadi, namun lebih dari cukup untuk saya bisa mandi dan meluruskan kaki. Sempat saya coba tidur di pelatarannya karena di situ lebih sejuk. Walau tak banyak nyamuk, pikiran bahwa saya tak minum pil kina sejak kemarin membuat saya mengurungkan keputusan itu. Saya akhirnya masuk kembali ke ruang wudhu dan menemukan ruangan yang tadinya saya kira gudang kini telah terbuka. Saya melongok ke dalam dan terlihat tiga orang sedang mengaso. Tiga orang yang tidak akan saya lupakan.

Mereka adalah pelancong dari Sorong. Sama kere-nya seperti saya yang suka tumpang tidur di mana-mana. Merasa senasib, dengan ramah mereka mengizinkan saya masuk dan berbagi ruangan kecil itu. Kamar darurat ini kini penuh dengan kami, ransel-ransel kami, dan sebuah kasur tanpa ranjang. Kepada mereka, saya perkenalkan diri saya dari Jakarta. Sebelumnya, selama di Waisai saya tak pernah mengaku kalau saya dari Pulau Jawa. Saya memilih untuk bilang bahwa saya dari Babo. Biasanya dengan begitu saya bisa membuka obrolan yang lebih menarik dengan penduduk setempat. Sedangkan mereka, walau datang dari Sorong, ketiganya asli Makassar. Totok Makassar dengan logatnya yang kental. Saya tidak akan menuliskan nama mereka, karena kami memang tak saling bertukar nama. Kadang apalah artinya nama. Dalam sebuah perjalanan, asal daerah sudah cukup untuk merepresentasikan diri.

Pria pertama memiliki mata bulat yang belotot. Ia yang paling banyak bicara dan selalu punya komentar tentang apapun yang kita bicarakan. Wajahnya bundar dengan pipi berisi. Bibirnya tebal terbuka dengan gigi yang selalu terlihat. Perutnya tambun cocok dengan gaya duduknya dengan sebelah lutut terangkat. Ia terlihat jauh lebih tua dari usianya yang lahir di 1988. Di antara mereka bertiga, si belotot ini yang bicaranya paling cepat. Hampir tak ada kata-katanya yang bisa saya tangkap bahkan jika ia sedang tidak menggunakan bahasa daerah. Pun demikian, ialah yang memaksa saya untuk tidur di atas kasur yang cuma satu-satunya yang mana harus saya tolak dengan halus.

Yang kedua si kurus gondrong. Kulitnya sangat hitam, nyaris sama dengan baju dan kolornya yang juga hitam. Tulang-tulang di wajahnya terlalu kentara saking kurusnya. Alih-alih ada pipi, kulit di sisi wajahnya melesak ke dalam. Giginya besar, panjang, berwarna kuning gading, dengan senyum yang bersahaja saat menawarkan keripik kepada saya. Rambutnya panjang sebahu dan ia kucir di bagian bawah. Sejak saya masuk, mantan anak Mapala ini tak beranjak dari posisinya yang berjongkok dengan punggung merapat pada tembok. Kegiatan favoritnya adalah mendaki gunung, sama seperti saya. Kami sempat bertukar cerita tentang keseruan mendaki gunung-gunung di Jawa dan di Sulawesi.

Ketiga, si paling tua. Tak tahu benar usianya tapi mungkin pertengahan tiga puluhan. Rambutnya tipis, keriting, dan dibiarkan panjang. Sesungguhnya ia memiliki wajah seperti anak-anak namun dengan mulut yang digantungi sepasang kumis lele. Ia bertelanjang dada, menunjukkan perutnya yang bulat di atas celana bahan yang digulung setengah betis. Ia memang bilang kalau ia tak suka pakai pakaian kalau mau tidur. Mengampar pada ubin lebih enak katanya. Dibanding si pertama dan kedua, ia yang paling bisa saya mengerti bicaranya. Saat kata-kata dua lainnya tidak bisa saya tangkap, saya akan menengok kepadanya minta sinyal untuk diterjemahkan.

Malam yang tadinya saya kira akan saya habiskan dengan menahan sabar hingga fajar kini berubah. Teringat sebuah peribahasa Afrika yang tidak saya percaya kebenarannya: “Jika kau ingin pergi cepat, pergilah sendiri. Jika ingin pergi jauh, pergilah bersama”. Buat saya, sendiripun saya bisa pergi jauh. Tapi setelah malam ini, saya pikir mungkin saya yang salah mengartikan peribahasa itu. Mungkin jauh yang dimaksud tak harus suatu tempat yang melintas samudera atau benua. Melainkan sebuah malam menyenangkan di balik bilik ruang wudhu. Malam yang tak mungkin saya dapatkan bila tetap sendiri.

Mereka adalah orang-orang baik. Begitu baik. Dari mereka, saya melihat sebuah kebaikan dalam bentuknya yang paling tradisional. Kesediaan untuk berbagi dan berlaku setara. Kebaikan sederhana yang kadang kini tak terasa lagi ditindihi label tata krama.

Memang, tak ada yang spesial tentang mereka. Tak ada pula kejadian ajaib yang bisa didongengkan ke anak cucu. Obrolan kamipun standar warung kopi. Tapi itu menjadi salah satu malam ternyenyak saya. Ternyenyak dari yang sudah-sudah belakangan ini. Mungkin karena setelah sekian lama akhirnya saya dapat kawan untuk bertukar cakap hingga terlelap. Bersama mereka, nasib ini sepertinya terbagi. Tak hanya empat, melainkan menjadi seribu keping kecil. Yang membuatnya menjadi begitu ringan, remeh, dan tak perlu dipusingkan.

Sebelum subuh sempat menjadi pagi, saya harus pergi ke pelabuhan. Saya sampaikan pamit saya kepada si kurus dan si tua. Saat itu si belotot sedang entah ke mana, mungkin di kamar mandi.

Jong celebes. Semoga saya bisa bertemu kalian kembali berpuluh-puluh tahun nanti, walau hanya dalam kepala.

Bar: 13

Leave a comment

Dalam bahasa soenda, Kahoeripan artinja kahidoepan. Dalam doenia perkreta-apian, Kahoeripan adalah nama oentoek kreta jang meladjoe dari Kiaratjondong menoedjoe Kediri. Kreta-nja moerah, kerana itoe banjak penoempang jang didjedjal la’sana ikan pepes. Silakan dirasakan sendiri sensatie-nja. Trada koelit jang tida bertemoe koelit. Kringat serta baoe badan orang sebelah ketjioem saolah milik sendiri. Saking penoehnja, penoempang pada tidoer di kolong koersi seperti majit-majit jang reba.

Di dalam kreta, semoea orang mendjadi moesoeh. Ta’ terketjoeali toean dan poean jang membawa anak misih ketjil-ketjil. Soenggoe poen boekan berma’soed demikian, tapi lantaran tangisan anak-anak toean dan poean sama mendjengkelkan-nja dengan teriakan pendjadja tahoe.

Beloem lagi waktoe kreta mangkal. Masa saat kreta merapat pada satoe statsiun adalah jang paling menjiksa. Penoempang jang naik bertamba begitoe djoea pedagangnja. Chairan pada mereka jang tiada maoe robah dia poenja pendirian dengan masih berdjoealan di atas kreta ini. Soeda taoe sempit, misih sempat-sempatnja boeka kiosk.

Di dalam kreta, sodara haroes berhati-hati agar tida tjilaka. Maoe itoe iboe-iboe toea atawa saudagar moeda, mereka patoet ditjoerigai. Bole djadi mereka pentjoeri. Itoe sebabnja penoempang biasanja tida pernah benar-benar tertidoer. Mereka haroes terdjaga sampei achir djika pengen harta bendanja selamat.

Semakin kreta meladjoe, semakin trada lagi perasaan iba jang tersisa bahkan oentoek mereka jang bermoeka melas. Di Lempoejangan, saorang prempoean jang sedang sakit selesma masoek. Semoea taoe ia baroe dibandjoer hoedjan tapi trada jang soedi memberinja roeang. Boekan kerana ta’ poenja hati, tapi di dalam kreta setiap orang oentoek dirinja sendiri. Di dalam kreta, semoea orang adalah moesoeh.

Djikalaoe boekan kerana tjinta jang moelia, orang-orang tengtoe tida akan maoe plesir di atas kreta ini. Sepoeloeh djam mentjoemboe lantai kreta dan diperlakoekan lajaknja barang ta’ bernjawa adalah moesiba. Djikalaoe boekan kerana tjinta jang menanti di kota toejoean, orang-orang tengtoe tida akan maoe.

Djikalaoe boekan kerana tjinta… habislah soeda.

 

Dirangkai dari potongan kata milik Eddy Suhardy untuk cerita Seno Gumira dalam buku yang dipinjamkan Gloria

George

1 Comment

Ia mengingatnya. Waktu itu ia cuma anak kecil yang terdesak di antara kerumunan manusia yang berdiri di sepanjang trotoar. Di hari itu, jalan utama kota Sofia yang biasanya lengang tampak penuh oleh warga yang turun ke jalan untuk menyaksikan sebuah perhelatan yang tak biasa. Ada sebuah arak-arakan panjang yang melintas lengkap dengan bendera, mobil mewah, dan musik yang diputar. Musik itu terdengar asing dan bendera itu jelas bukan milik Bulgaria. Hanya ada dua warna pada bendera itu, merah di atas dan putih di bawah. Di antara lautan kepala, orang-orang yang tak beruntung mungkin hanya bisa melihat sebuah sedan hitam melintas pelan di antara konvoi. Tapi tidak dengannya. Ia sempat melihatnya. Walau sekilas, ia masih ingat betul sosok pria yang dielu-elukan itu duduk di jok belakang sedan. Dengan mengenakan apa yang tampaknya seperti topi berwarna hitam, pria itu melambai tenang ke kiri dan kanan. Baginya, momen itu adalah kali pertama ia tahu bahwa ada sebuah negara lain di sudut bumi yang bernama Indonesia.

—-

“So, what was that black hat he wore?”

“…and that is called kopiah. It is some kind of national headdress.” jelas saya.

Perjalanan ini menjadi tidak berasa seiring percakapan kami yang kian berkembang. Ia kini berumur 59 tahun. Rambutnya sudah serba putih dan suara beratnya menggantung bersama kulit lehernya yang keriput. Ia adalah supir taksi yang mengantar saya pulang dari Sunbury menuju Windsor.

Pada awalnya saya merasa bersalah kepadanya. Kesalahpahaman membuat kami saling menunggu satu sama lain, dan setengah jam bukanlah penantian yang sebentar di udara sedingin ini. Agar suasana lebih hangat, saya mencoba membuka percakapan. Begitu ia bicara, saya tahu ia bukan dari Inggris. Aksennya berbeda dan ia meminta saya memaklumi kosakatanya yang terbatas. Ia lalu menjelaskan bahwa ia berasal dari Bulgaria. Seperti basa-basi pada umumnya, ia bertanya balik, “How about you?”

Tanpa ekspektasi saya menjawab, “I’m from Indonesia.”

“Oooh, Indonesia!!” mata keriputnya berbinar menatap saya dari spion tengah.

“I remember your first president’s name. His name is Sukarno.”

Kali ini saya yang menatapnya penuh minat.

Harusnya ada banyak hal lain yang bisa dikaitkan bila mendengar kata Indonesia—saya bahkan siap bila ia tidak tahu apa-apa. Tapi Soekarno? Mendengar nama itu keluar dari mulut orang seasing ini membingungkan saya.

Saya coba memastikan, mungkin ia pernah ke Indonesia dan mengingatnya dari nama bandara di Jakarta.

“How can you know? Have you ever been to Indonesia?”

“No, no… But I’ve seen him.”

Oh ini sangat menarik. Saya segera menunjukkan antusias saya dan ia mulai bercerita.

Saya dibawa kembali ke tahun 1961 ketika ia baru berumur tujuh tahun dan masih menetap di Sofia. Ia mengingat hari di mana ada sebuah pawai besar dengan bendera merah putih dan lagu kebangsaan Indonesia diputar melalui pengeras suara. Ia melihat sang presiden duduk di dalam mobil memakai (apa yang 52 tahun kemudian akhirnya ia tahu bernama) kopiah. Saat itu Presiden Indonesia, Soekarno, melakukan kunjungan resmi pertamanya untuk bertemu Sekjen Partai Komunis Bulgaria, Todor Zhivkov. Agenda pertemuan itu sebenarnya untuk membicarakan pendirian kedutaan Indonesia di Sofia sebagai upaya mengeratkan hubungan diplomatik kedua negara. Zhivkov menyambut baik Soekarno yang saat itu sedang ingin membuka jalan agar paham komunis dapat diterapkan di Indonesia. Namun bagi bocah seusianya, informasi itu tidaklah penting. Kala itu ia melihat Soekarno sebagai selebriti―sosok langka yang selalu ramai dikerumun orang. Kesan itu mungkin yang membuatnya masih mengingat nama Soekarno sampai sekarang. Mungkin sama seperti saya yang masih mengingat nama pemeran Wiro Sableng adalah Ken-Ken.

Walaupun begitu, obrolan sepanjang perjalanan ini menunjukkan bahwa ia lebih dari sekedar ingat bila membicarakan Soekarno ataupun Indonesia. Pengetahuannya seputar Indonesia cukup membuat saya terkejut. Ia tahu banyak mulai dari letusan Krakatau, penjajahan Belanda, keragaman pulau dan bahasa, sampai Bhineka Tunggal Ika. Setiap kali selesai bicara, ia melirik saya, menunggu saya membenarkan atau mengoreksi apa yang ia tahu. Sesekali saya memberikan detail-detail tambahan yang makin membuatnya bersemangat.

Obrolan kami akhirnya kembali ke Soekarno. “So how about him?” tanyanya.

Saya berpikir sejenak. Saya tidak terlahir di era Soekarno. Saya tidak bisa memberikan testimoni tentangnya selain dari apa yang saya baca sebagai sejarah. Lagipula menurut saya sejarah tentang Soekarno terlalu berwarna dan ber-versi. Pada akhirnya saya hanya dapat bercerita kepadanya mengenai Nasakom, pendidikan Belanda Soekarno, dan sedikit tentang korelasi nama itu dengan pahlawan Mahabharata yang lahir dari telinga gadis perawan.

Ia mendengarkan dengan seksama. Walau ia sangat tertarik pada apa yang terjadi dengan Nasakom yang dibawa Soekarno, ia tidak menodong saya dengan banyak pertanyaan. Sepertinya ia mengerti bahwa bagi saya komunisme adalah sesuatu yang sangat jauh, yang tak adil bila saya harus berkomentar tentangnya. Lain seperti ia yang hidup di ‘negara palu-arit’ semenjak kecil, yang tahu betul apa rasanya komunis.

Saya berkata, “It is strange that he’s my president and I know him more, but you were closer to him than I ever was.”

Ia menatap saya dan melayangkan senyumnya dari spion tengah. Ia paham ada multitafsir di kalimat saya.

“With so many differences and yet you are one, Indonesia is an amazing country.” simpulnya tulus.

Percakapan lalu berganti didominasi olehnya. Ia mengaku bahwa pembicaraan tadi telah membangkitkan kenangan lamanya. Sambil mengenang, ia menceritakan saya berbagai hal mulai dari pekerjaannya, keluarganya, orang tuanya, hingga kehidupan masa kecilnya di pinggiran kota Sofia. Dengan sangat subjektif, ia mendeskripsikan lingkungan di mana ia tumbuh itu sebagai tempat terindah di dunia.

“You know, I’m a Christian Orthodox. But in where I am from, it is a god-bless to have Moslem as a neighbor.”

Saya tak perlu bertanya apa maksudnya. Saya balas kalimat itu dengan senyum sebagai ungkapan terimakasih. Kalimat-kalimat seperti inilah yang saya butuhkan untuk bisa selalu yakin bahwa hal-hal indah memang ada di luar sana. Saya tahu adanya bahwa etnis muslim di negara-negara Slavia kala itu mengalami diskriminasi. Sebagian besar dari mereka dipaksa untuk mengganti nama dan dilarang menjalankan ibadah. Tapi ia ingin saya mengerti, bahwa hanya karena sejarah menuliskannya demikian, tidak berarti semua orang seperti itu.

Tanpa saya sadari taksi telah melambat dan berhenti di sisi jalan berbatu. Di seberang jalan, hotel tua tempat saya menginap terlihat antik dihujani debu-debu salju yang telah kembali turun. Pembicaraan kami harus berakhir.

Setelah menyerahkan sejumlah poundsterling, saya jabat erat tangannya dan kami menukar ucapan semoga sukses satu sama lain. Saya merasa terapresiasi. Mungkin kepeduliannya yang besar kepada tempat dari mana saya berasal itu yang menyentuh saya. Atau mungkin karena cara berbicaranya yang membuat seakan saya benar-benar bagian dari kenangan lamanya. Saya merasakannya sekarang; bisa menjadi bagian dari kenangan seseorang—walau sangat kecil—adalah perasaan yang sangat membahagiakan. Andai saja ada sesuatu tentang Bulgaria yang bisa saya bagi juga kepadanya.

Saya membuka pintu taksi dan siap menerjang jalan berbatu. Sebelum benar-benar berpisah, segenap rasa hormat membuat saya menyempatkan berbalik dan bertanya,

“What’s your name, Sir?”

“My name is George,”

“I‘ll remember you, George of Bulgaria.”

Februari 2013

Nona

Leave a comment

Sudah lama sebenarnya saya ingin menulis ini. Tapi kamu tahu baru hari ini saya memulainya. Mungkin karena sore ini begitu sepi. Mungkin senyap ini yang menjadi sebab. Senyap yang begitu pekat yang justru membuat bangun bayi yang tertidur. Yang membuat saya tak lagi mampu untuk tidak larut di dalamnya. Bahkan tanpa nafas, tak ada hal yang dapat saya dengar. Tak satu dengung ataupun degup. Tak satu senja. Saya yang biasanya merdeka dalam sepi kini merasa tertekan. Ada apa? Dan ke mana? Adalah kegelisahan langka yang lahir dari sepi ini. Kelangkaan yang cukup untuk berdialog kembali dengan diri saya tanpa ini itu yang mengganggu; tanpa bumbu dan derajat untuk dipertahankan. Mungkin ini kesempatan untuk dapat dengan seksama mendengar suara hati ini. Maka kamu tahu mengapa baru hari ini saya memulainya. Saya harap eksodus ini memiliki andil dalam menepik saya yang hipokrit.

Tapi ini adalah sepi yang saya beli. Tak murah, karena sebenarnya saya bayar mereka untuk tidak berada di sisi saya. Saya bayar senja itu supaya turun perlahan dan diam seperti ninja. Agar tak seorangpun tahu bahwa saya pernah menikmatinya. Maka kamu tahu bahwa saya bukanlah orang yang sepenuhnya berbudi baik. Dan kamu tahu betapa artifisial kesemuanya ini.

Saya adalah mereka yang mampu meninggalkan sesuatu untuk merasakan sesuatu yang lain. Saya adalah mereka yang akhirnya terkapar ditelan senja‒separuh meratap agar bisa kembali pulang. Walau kau tahu nyatanya ratapan itu tak pernah terucap, mungkin sebab saya adalah seorang begundal tengik yang angkuh. Namun oh sesungguhnya, jika saya boleh merasa hingga degup terdalam, hingga mengandai apa jadinya saya tanpa tungkai dan lengan ini; saya merasa kehilangan. Saya merasa telah begitu sombong. Saya merasa masygul karena tak pernah mendedikasikan diri ini untuk siapapun.

Dan kesenyapan absolut ini mengamplifikasi segalanya. Apa yang saya rasakan kian merebak layaknya demam. Betapa kini saya tahu, mereka yang saya tinggalkan ternyata tak pernah benar-benar meninggalkan saya. Seperti malaria, mereka hanya mengendap dalam darah dan ikut ke manapun raga ini pergi. Tertawa dan tidur bersama saya. Menunggu untuk meradang kembali pada sore yang ekstra sepi.

Bahwa ini adalah hukuman. Hukuman untuk dihantui kenangan dan penyesalan atas hal-hal tak terpuji yang saya lakukan. Mereka yang terlupakan kini muncul satu persatu dengan warna yang tak bisa diterka. Memainkan kembali adegan-adegan yang pernah kita jalani bersama dalam senyum dan pantomim. Saya tak lagi bisa membayangkan suara mereka, atau bagaimana mereka menyebut nama saya. Membuat saya ragu, apa mereka benar-benar pernah memanggil saya? Membuat saya tahu, jarak di antara kami tak lagi dapat ditempuh.

Betapa senja ini menjadi ninja dan mereka adalah malaria. Saya tahu tak ada jalan untuk dapat memenangkan kembali masa-masa itu. Permohonan untuk diampuni adalah keistimewaan yang tidak pantas saya dapat. Saya adalah mereka yang terkapar dan tak diizinkan pulang. Rindu adalah duka yang akan saya emban selamanya. Namun jika boleh saya berharap untuk terakhir kali, saya ingin merasa lebih baik walau hanya sedikit. Saya ingin nafas ini bisa sedikit lebih lega sebelum akhirnya berhenti. Itulah alasan mengapa saya menceritakan semua ini kepadamu. Karena saya tahu hanya kamulah yang percaya bahwa ada hal di diri ini yang pantas untuk diselamatkan. Karena sejak dulu kamu adalah segalanya.

Saya ingin menamai kamu Nona. Menjadikan kamu malaikat kecil yang belas asih. Supaya kamu menjadi sosok yang akhirnya mampu memaafkan saya. Saya akan mencintaimu dengan cara apapun. Ingatkan saya pada kedamaian kekalahan. Ingatkan saya bahwa menyerah untukmu adalah hal yang paling saya inginkan. Nona, sungguh saya ingin bisa termaafkan. Jika kamu memang ingin, eksodus ini akan saya jalani kembali. Saya akan berikan sisa usia ini untuk berpikir yang tak terpikirkan. Memberi waktu untuk merindu hingga meradang menjadi batu. Nona, saya mungkin tak mampu memandang matamu lekat-lekat sebagaimana seharusnya. Tapi saya harap kamu dapat merasakan ketulusan ini.

Gunung Kinabalu, 11 Oktober 2013

Paradoks

Leave a comment

Paradoks adalah seperti ini. Adalah bejana air milik Boyle. Adalah gadis bermata sayu di Braga Permai. Adalah dia. Adalah saya yang takut bila kematian datang dengan cepat.

Ini adalah bait dari Kitab yang membuat semuanya menjadi jelas. Ide tak lagi dapat digambarkan seperti yang Willy Karen bilang: ”Everything that humans can imagine is a possibility in reality”.

Kendati apa yang diusungnya begitu menggiurkan, yang selalu terjadi (dan pasti terjadi) adalah sesuatu yang lebih sederhana dan maujud. Saya kira Karen keliru bila menyamadengankan realita sebagai ruang di masa depan di mana segala hal terbuka dan patut didengar. Di mata saya, realita adalah pria tua kolot penggerutu yang enggan menerima opini. Sebuah sosok yang jauh dari gelimang imajinasi.

Robert Boyle dulu pernah mencoba menantang pria tua ini. Boyle berteori akan hadirnya sebuah bejana air yang mampu terisi dan mengisi sendiri. Sebuah paradoks hidrostatis, ia menyebutnya. Boyle berdaulat bahwa suatu hari akan lahir sebuah gerakan perpetual yang tak akan pernah kehilangan energi. Tapi sayangnya ia kalah. Keterbatasan teknologi di masanya mengatakan bahwa tidak ada satupun material yang mampu terbebas dari friksi permukaan kapiler. Bahkan setelah 329 tahun lamanya, hari yang didambakan tak pernah ada. Si pria tua dengan kepala batunya tetap kukuh menutup pintu untuk imajinasi ini. “Mungkin nanti seribu tahun lagi―yang jelas bukan sekarang”, cibirnya kepada Boyle yang kalah.

Tapi benarkah seribu tahun lagi cita-cita Boyle akan terwujud? Siapa peduli. Jikapun benar, sisa-sisa raga Boyle mungkin sudah menjadi minyak bumi dan ia tidak akan pernah tahu. Apapun janji yang ditawarkan hari esok, Boyle mati tanpa pernah mendapatkan apa yang ia inginkan.

Nun jauh di tempat lain, seorang gadis di Braga Permai tahu benar untuk tidak menaruh hati pada hari esok. Ia kenal betul bawa esok tidaklah berbeda dari hari ini di mana segala sesuatunya begitu konvensional dan biasa-biasa saja. Bahwa esok, ia akan tetap di sana memakai seragam birunya dan menawarkan menu kepada saya. Bahwa esok, taplak bolong karena rokok itu tetap digelar siapa pun tamunya, tak peduli cita-cita apa yang sebenarnya tersembunyi di balik sepasang mata sayu itu.

Firasat saya mengatakan jangan-jangan gadis ini adalah Si Bejana Air yang mengambil rupa manusia―mungkin yang bereinkarnasi setelah ditinggal mati Boyle. Dirinya tak lain dari sebuah paradoks. Ia adalah cita-cita yang terpangkas habis oleh friksi realita yang tak bersahabat. Rutinitasnya adalah gerakan perpetual yang menguras energi dalam setiap siklusnya. Ia mungkin tidak menyadarinya sebab terlalu lelah, namun tak ada lagi ruang baginya untuk sekedar bermimpi. Ia cuma bisa pasrah saja terhanyut dalam arus realita yang kolot. Menebak permuaraan nasib mana yang menunggunya.

Boyle maupun gadis itu akhirnya tahu. Tahu bahwa sebagian besar gagasan cemerlang nyatanya tidak memiliki tempat dalam jagat realita.  Jikapun terjadi, ia terjadi dalam sebuah semesta yang lain. Jikapun terwujud, ia terwujud dalam sebuah realita tanpa kita di dalamnya.

Kami bertiga paham bahwa ada komponen kreativitas yang tak mampu dunia ini berikan. Ada ide-ide yang memang cuma bisa menyublim di langit sebelum Kematian dan kroninya menghunuskan tombak-tombak maut dengan lekas.

Ada ketakutan di hati ini yang tak pernah hilang bila memikirkan seberapa cepat realita saya akan berakhir. Saya telah melihat terlalu banyak hal yang membuat saya betul-betul cinta kepada dunia. Saya tidak akan pernah siap. Ini adalah perang yang tidak bisa saya menangkan.

Tapi paradoks ini bukan untuk saya bunuh. Walau hati kecil saya menginginkan Karen benar, saya tahu ada arti dibalik gentar dan takut itu: ada yang berharga yang tak sudi saya tinggalkan.

Kini saya harus memikirkan sebuah penutup. Penutup yang menenangkan walau tak mengubah keadaan. Penutup yang tak perlu tahu benar bagaimana dirinya akan berakhir.

Apapun yang terjadi di kemudian hari tak lain dari sebuah fiksi di hari ini. Begitu juga saya, Boyle, dan gadis bermata sayu itu.

 

Dimulai di Kyoto diselesaikan di Jakarta, November 2012

Older Entries