Hari ini saya ingin sekali meracau. Kebetulan tentang psikotes (soalnya saya baru saja ikut interview, hahaha).

Langsung saja. Psikotes atau tes psikologi adalah tes untuk mengukur aspek individu secara psikis. Psikotes dapat berbentuk tertulis, visual, atau evaluasi secara verbal yang teradministrasi untuk mengukur fungsi kognitif dan emosional.

Apa tujuan psikotes?

Psikotes digunakan untuk mengukur berbagai kemungkinan atas bermacam kemampuan secara mental dan apa-apa yang mendukungnya, termasuk prestasi dan kemampuan, kepribadian, intelegensi, atau bahkan fungsi neurologis. Jadi sederhananya, psikotes adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui gambaran seseorang mulai dari kemampuan kognitifnya, kondisi emosinya, kecenderungan-kecenderungan sikap dan hal-hal yang mempengaruhi kecenderungan tersebut.

Ya, saya rasa semua psikolog akan membenarkan pernyataan di atas mengenai tujuan psikotes. Namun di luar tujuan itu ada suatu hal yang lebih besar yang selalu muncul di benak saya setiap kali mendengar psikotes. Suatu hal besar itu terdiri dari dua hal. Pertama, keberadaan psikotes menunjukkan fakta ketidakmampuan manusia memberi nilai kepada dirinya sendiri. Kedua, keberadaan psikotes menunjukkan bahwa manusia tidak (cukup) jujur.

Dua hal di atas selalu berhasil membuat saya merasa miris. Bayangkan, seorang manusia tidak dapat menilai dirinya sendiri, raganya sendiri, jiwanya sendiri, yang selalu bersamanya sejak ia terlahir di dunia ini sehingga (sayangnya) pada akhirnya diperlukan suatu metode dan ilmu tersendiri untuk mengetahuinya. Sedemikian rupa sampai manusia perlu diajak ke alam bawah sadarnya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan, teka-teki, gambar ini itu, sehingga kemudian dapat ditarik kesimpulan dari jawabannya. Dan kesimpulan yang ditarik dari alam bawah sadar seseorang inilah yang akhirnya diyakini oleh orang lain dalam menilai orang tersebut. Menyedihkan, mulut tercipta tapi tidak satupun yang bisa dipegang.

Sejujurnya saya ingin sekali memberi tanda X besar-besar saat pada lembaran tes psikologi dan cukup menulis di lembar belakang: “Nama saya Fulan, saya orang yang berkarakter, suka wanita, bertanggung jawab, jorok, dsb.” daripada harus direntet dengan pertanyaan “Apakah kamu suka menyenangkan hati orang lain?” atau “Apakah kamu suka makan dengan cepat?”.

Diakui bahwa kalimat di atas bernada sentimentil karena saya tidak dapat menemukan jalinan–indah–yang–hanya–bisa–dilihat–oleh–kacamata–keilmuan–psikologi atas kesimpulan yang diambil. Saya sama sekali tidak tahu hubungan seberapa cepat seseorang makan terhadap etos kerjanya. Sekali lagi saya bukan psikolog. Parahnya lagi, saya adalah seseorang bukan psikolog yang sedang meracau. Dan saya tidak mau bicara masalah kelogisan atau benefit dari keberadaan tes ini, karena memang sejak awal saya tidak memiliki kapasitas untuk membicarakan itu.

Maksud racauan saya ini adalah untuk menunjukkan bahwa ilmu itu berkembang dari sebuah kesadaran akan ketidakmampuan (baca: kelemahan, kepayahan, kerendahan, kehinaan). Bagi saya tetap, keberadaan tes ini menunjukkan bahwa ketidakmampuan manusia memberi nilai kepada dirinya sendiri dan tidak ada pengakuan yang (cukup) terpercaya jikapun ada penilaian yang dilakukan. Suatu fakta lama yang seharusnya tidak boleh tertinggal.

Oke, agar racauan saya ini cukup berbobot sekarang saya akan mencoba membawa perasaan miris saya ke dalam sesuatu yang lebih konstruktif.  Bisakah tes semacam ini dibawa ke dalam organisasi?

Karena bagi saya tes psikologi ini seharusnya lebih aplikatif untuk diterapkan ke dalam organisasi. Mengapa? Karena sering kali organisasi dipersonifikasikan menjadi anggota-anggotanya dan begitu juga sebaliknya anggota-anggota didepersonifikasikan menjadi organisasi itu sendiri.

  • Organisasi (non-manusia) –> anggota (manusia)                  *personifikasi
  • Anggota (manusia) –> organisasi (non-manusia)                 *depersonifikasi

Ide utamanya adalah mencoba menganalogikan organisasi sebagai individu. Namun dengan keberadaan dua proses fikasi di atas, organisasi akan menemui kesulitan dalam memberikan nilai kepada organisasi itu sendiri (identik dengan ketidakmampuan manusia menilai dirinya sendiri). Di sinilah, menurut saya, tes psikologi tepat untuk diaplikasikan.

Pengujian sederhana:

Ada pertanyaan menarik yang biasa keluar saat psikotes yaitu, “pilih salah satu yang menurut Anda mewakili Anda: Anda lebih suka menyelesaikan permasalahan yang ada sekarang hingga tuntas atau Anda mampu menanggulangi kemungkinan permasalahan yang belum tentu terjadi.”

Sekarang kita ganti kata ‘Anda’ dengan ‘Organisasi’. Bisakah organisasi menjawabnya?

Organisasi akan berusaha memilih jawabannya…. (saat organisasi berpikir proses personifikasi dan depersonifikasi akan terjadi)

Organisasi berpikir lebih keras…. (bagai yin dan yang, personifikasi dan depersonifikasi terus berputar tak berujung)

Organisasi masih berpikir dan mulai menilai bahwa pertanyaan ini sulit…

Organisasi menyerah, dan dengan putus asa memilih pernyataan pertama…

Salahkah yang dilakukan organisasi? Benarkah keputusan yang dipilih organisasi? Kembali lagi, ini psikotes bung! Tidak ada jawaban benar atau salah. Pernyataan mana yang dipilih merupakan cerminan sikap organisasi. Organisasi akan tetap selalu benar. Bos selalu benar. Dan seperti halnya manusia, organisasi terus berkembang dengan kedewasaannya. Suatu hari organisasi akan mengambil sikap yang berbeda dari apa yang organisasi itu lakukan sebelumnya. Bisa jadi sebuah kedewasaan, bisa jadi sebuah kekolotan. Tergantung pembelajaran seperti apa yang mau diterima organisasi tersebut.

Hari di mana organisasi merasa benar akan suatu hal padahal alam semesta berpendapat sebaliknya, maka organisasi mengalami kondisi yang pada manusia biasa disebut gila. Salahkan menjadi gila? Harusnya tidak. Tapi yang jelas orang gila selalu merasa benar, walau ia hidup dengan konsekuensi tidak pernah sama dengan makhluk lainnya. Ia sanggup dikucilkan. Ia sanggup tidak digubris.

Pada akhirnya, akan ada masa ketika suatu komunitas (atau bahkan bangsa) mendapatkan lembaran penilaian hasil psikotes dalam bentuk reaksi alam. Di masa-masa itu, seharusnya mereka melihat refleksi diri mereka . Namun sayang, seperti halnya kepada manusia, penilaian jauh lebih mudah diberikan bila sesuatu sudah mendekati kondisi ekstrim. Entah itu kondisi berjaya, atau sekarat.