Teman, saya ingat menulis tulisan ini setahun yang lalu. Berantakan, tergesa-gesa, dan tak menyimpul. Mudah-mudahan ada waktu bagi saya untuk mencerna kembali diri saya setahun yang lalu. Salam.

Pergerakan mahasiswa di kampus ini adalah pergerakan bangsa. Masa depan bangsa ini tidak akan menjadi lebih baik bila mahasiswa hanya diam. Kondisi sekarang ini adalah mahasiswa sedang bergerak. Ya, artinya bangsa inipun sedang bergerak. Namun ada yang salah pada simpul besar pergerakan kemahasiswaan ini. Ada yang tidak sehat di kursi-kursi kepemimpinan tertinggi. Atau mungkin lebih tepatnya jika saya bilang bahwa ada pemenangan kepentingan golongan tertentu. Kenapa?

Saya bukanlah mahasiswa yang lahir dari rahim golongan tertentu. Saya besar sendiri, dengan cara sendiri, di tengah-tengah. Seiring mengertinya saya akan identitas saya, maka saya mulai mencoba memasuki pikiran dan ideologi golongan depan dan golongan belakang. Pencaritahuan ini dimulai dari kaderisasi atau bentuk doktrin apa yang diterapkan di masing-masing golongan.

Hasrat dan semangat mahasiswa merupakan potensi terbesar yang dimiliki oleh suatu negara. Tidak heran apabila dunia mahasiswa dan kampus menjadi ladang tersubur bagi organisasi politik. Tidak ada hal yang lebih memuaskan perut parpol selain kepentingannya dimenangkan. Dan bagaimana cara mereka melakukannya? Pertama sekali mereka harus memegang jabatan tertinggi sehingga dapat memainkan rencananya melalui posisi yang strategis. Salah satu cara pintar mereka adalah dengan memanfaatkan ladang subur yang saya sebutkan di atas.

Mereka masuk ke dalam kemahasiswaan melalui kelompok-kelompok besar yang ada entah itu unit, lembaga, dll. Mereka masuk dengan sangat halus. Lebih hebatnya lagi mereka pasti diterima. Keberterimaan yang tercipta akibat adanya kesamaan tujuan, bentuk pemikiran, dan cita-cita akan kejayaan masa lalu, yang notabene bukan nenek moyang bersama.

Saya tidak mengatakan bahwa mereka berbohong, yang jelas mereka melakukannya dengan cara seperti itu. Namun saya kira ada beberapa penerapan yang tidak mereka lakukan dengan semestinya. Ada beberapa hal yang mereka ‘tinggalkan dan maklumi’ untuk tujuan yang lebih penting, yaitu: jabatan di posisi strategis. Yang mereka bilang bahwa dengan cara ini hal-hal yang ‘ditinggalkan’ sebelumnya akan dapat dilaksanakan dengan mudah kemudian. Hal-hal seperti inilah yang juga merasuk ke dalam organisasi kemahasiswaan yang mereka (parpol) buahi. Tentu dengan cara yang sangat halus sehingga mereka tidak merasakan turunannya secara langsung. Namun, tetap, saya kira mereka harus mengakui bahwa hal tersebut ada.

Megalomania ini kemudian menjamur ke seantero kampus dalam jumlah banyak, yang tentunya merupakan permainan orang-orang atas. Mereka berhasil melipatgandakan jumlah kadernya melalui kaderisasi yang tidak berhenti di setiap levelnya. Ya, tidak berhenti hingga akhirnya berujung pada partai politik itu sendiri. Begitu hebatnya hal ini terjadi sampai-sampai bila ada suatu lembaga yang ‘setengah hidup’ mendapat dukungan dari kader-kader (golongan) ini, dapat dipastikan bahwa lembaga tersebut dapat memanjangkan kembali nafasnya.

Mereka datang dengan massa yang banyak, dengan kesolidan yang tak terbantahkan, dan pergerakan yang nyata. Kedatangan mereka sangat menjanjikan.  Kedatangan mereka bagai obat. Tak heran bahwa mereka cenderung dimenangkan. Tapi saya sadar bahwa ada hal yang mati melalui pemenangan ini: idealisme. Serta kebenaran ilmiah yang kita pegang.

Menjadi mahasiswa berarti mendapat kesempatan untuk mengejar bentuk ideal dari suatu kehidupan dan kemuliaan. Berbahagialah mereka yang menjadi mahasiswa. Tapi saya takut hal ini sudah semakin bergeser melihat fakta yang sudah saya paparkan sebelumnya.

Perluasan kekuasaan dan ketergantungan menjadi katalis satu sama lain. Seorang pemimpin kemahasiswaan harus memilih apakah kabinetnya terdiri dari golongan besar ini dan program kerjanya dapat terlaksana atau ia tetap menjaga kemurnian kabinetnya dan menghindari berbagai politik kepentingan dengan cara mendengarkan idealisme yang disuarakan individu-individu kampus. Yang mana kita tahu bahwa opsi kedua ini butuh waktu sangat lama dan melewati jalan berbatu dan berbuah kabinet tidak akan berjalan. Saya tahu bahwa independensi kampus tanpa campur tangan alumni dan pihak luar adalah hal yang mustahil. Dan saya tidak ingin bersikap naif, uang tetap segalanya. Kecuali kampus ini memiliki badan usaha mandiri, rongrongan pihak ketiga tidak akan pernah berhenti.

Saya tidak bermaksud mendiskreditkan pihak tertentu. Hanya saja saya melihat peperangan di antara kalian. Ada yang menang dengan cara yang tidak sehat, ada yang dikorbankan dan akhirnya mati. Saya orang yang lahir di tengah-tengah dan sakit hati dengan peperangan ini. Sampai mati saya tidak ingin kemuliaan dari sebuah perjuangan dikotori.

Kampus, sekitar penghujung 2009