Beliau bernama Shobirin. Seorang guru. Tapi bagi saya beliau adalah seorang peneori. Beliau adalah orang yang menyajikan suatu fenomena alami dengan cara menjabarkan hubungan fakta-fakta penyusunnya. Orang biasa menyebutnya guru sejarah. Namun saya tidak sepakat untuk memaninfestasikan apa yang beliau lakukan dengan sebutan sekedar ‘guru sejarah’. Beliau lebih dari itu.

Saya ingat di hari pertama ia mengisi kelas sejarah, ia berkata, “Kita telah melakukan kesalahan dengan menggunakan kata sejarawan. Tidak ada sejarawan. Yang tepat adalah sejarahwan.”

Tak ada yang pernah tahu apa maksud pernyataan beliau. Yang saya tahu, Kamus Besar Bahasa Indonesia berpendapat sebaliknya. Kata sejarawanlah yang sudah dibakukan menjadi bahasa Indonesia dan memiliki status hakiki untuk digunakan dalam berbahasa. Tapi salahkah beliau? Atau salahkah KBBI? Saya tidak peduli. Pokoknya, beliau sudah memulai kelas ini dengan awal yang baik. Berupa pertanyaan. Pertanyaan terhadap apa yang (mungkin) sudah menjadi jawaban. Suatu proses penting yang harus dilakukan saat kita ingin mengenal sejarah. Hal pertama yang beliau ajarkan adalah kritis. Karena tanpa kritis, sejarah tidak akan terkuak. Sejarah hanya akan menjadi gunjingan. Sejarah hanya menjadi tulisan.

Suatu ketika beliau juga pernah dengan berani menulis besar-besar di papan tulis: THEOLOGI = SEJARAH. Saya bilang ‘dengan berani’ karena beliau menulisnya untuk membantah perkataan seorang guru sejarah lain (yang lebih senior) tepat di hadapannya. Maksud tulisan beliau adalah bahwa mempelajari sejarah akan menggiring kita ke persoalan ketuhanan. Sejarah dapat dikaitkan dengan ilmu ketuhanan. Penelusuran sejarah manusia akan membawa kepada penelusuran sejarah ketuhanan. Sejarah menceritakan manusia, dan manusia senantiasa mencari tuhan (apapun wujudnya) sepanjang hidupnya. Maka selayaknya tidak pantas bagi manusia untuk mendikotomi ilmu sejarah dengan ilmu ketuhanan. Saya rasa beliaulah yang pertama kali mengajak saya untuk berpikir berbeda dan tidak biasa. Saya belajar banyak, walaupun waktu untuk mengenal beliau sangat singkat.

Jika waktu kembali seperti dulu dan Bapak mempersilahkan kami bertanya, maka kini saya akan mengacung dan bertanya, “Masihkah Bapak ingin Tibet menjadi tempat terakhir Bapak?”. Sejurus berikutnya kita mungkin akan terpingkal menertawai betapa naifnya masa lalu. Sekarang sudah lebih dari tujuh tahun sejak saya bertemu dengan Bapak hingga saya menulis tulisan ini. Terimakasih sudah mengajarkan sesuatu yang baru. Semoga Bapak selalu dalam lindungan Sang Pencipta.

Bandung, 13 April 2011