Tepat ketika malam mulai merepresikan pengaruhnya untuk memaksaku menyerah pada kesendirian dan kemiskinan, Setan datang.

Yang Tak Bernafas dan Tak Berbau begitu saja duduk di sampingku dan kemudian diberikan kepadaku olehnya secuat duri.

Tersisa di kepala ini tak lain daripada penawaran untuk menjadi bagian dari suatu ketidakadaan. Bagian Maha Kecil untuk dapat dilihat dan dipertimbangkan sebagai sebuah pilihan.

Lalu lewat di depanku Si Tuan Tak Berkaki. Mengesot, mengisut, mengaduh pelan dengan matanya yang kuning. Siapa dia? Siapa yang mengutusnya?

Tiba-tiba saja aku jadi ingin memiliki seorang istri. Wangi dan baik. Yang mana ia tidak perlu meludah di wajahku.

Ada kalanya aku berpikir orang-orang ini ada untuk meramaikan duniaku. Sekedar tercipta untuk menjadi isi. Sekedar melatar. Sama seperti batu. Ada tapi berlalu. Rakyat jelata yang tak semilidetikpun aku pedulikan.

Stasiun Jatinegara, 18 Juli 2010