teruntukmu yang pernah merasakannya..

Hanya sedikit manusia yang tidak memperoleh kekaguman dari manusia-manusia seumurnya, walaupun kebesaran mereka terletak pada gelar-gelar dan pencapaian-pencapaian yang sama sekali asing bagi tujuan dan cita-cita orang kebanyakan. Manusia selalu terikat kepada patokan ukuran palsu yang menyatakan bahwa mereka mengejar kekuasaan, kesuksesan, dan kesejahteraan bagi diri mereka, mengaguminya ketika hal-hal itu ada pada orang lain, dan bahwa mereka meremehkan apa yang menjadi nilai sejati dari kehidupan. Kebanyakan dari kita akan mencari musuh bersama untuk selalu bisa dikalahkan. Lebih spesifik saya mengatakan: manusia adalah makhluk komparatif. Manusia selalu ingin membanding dan dibandingkan. Sehingga hanya sedikit dari manusia yang akhirnya menemukan makna hadir mereka, dan merumuskan tujuan hidup, dan menciptakan ideologi.

Manusia-manusia yang termasuk golongan minoritas inilah yang akhirnya akan merasakan sensasi pencapaian tersendiri, yang tidak bisa dibandingkan dengan bentuk lain sensasi seperti pengakuan diri atau kepuasan dalam mengalahkan. Ini adalah tentang perasaan yang disebut sensasi “keabadian”, perasaan tentang sesuatu yang tanpa batas, tak berhingga, tak dibandingkan, seolah-olah seperti “samudera-raya”. Pun perasaan ini tidak membawa jaminan kekekalan hidup manusia, namun ia adalah sumber energi religius yang kemudian ditangkap oleh berbagai sistem keagamaan.

Saya tidak berani mengatakan bahwa sumber perasaan ini berkaitan dengan ketuhanan, walaupun saya juga tidak dapat menyangkal  bila pada kenyataannya hal tersebut terjadi pada orang lain. Hanya saja, apakah hal itu ditafsirkan dengan benar, dan apakah hal itu pantas dipandang sebagai sumber dan asal dari segalanya yang berkaitan dengan agama. Karena bagaimanapun manusia mungkin sudah sepantasnya menyebut diri mereka orang alim berdasar perasaan kesamuderarayaan ini saja, bahkan ketika menolak setiap agama atau dogma.

Jika boleh berhipotesis, pelacakan asal mula perasaan ini akan kembali pada tahap-tahap awal pemunculan perasaan ego yang lahir akibat pengalaman-pengalaman manusia terhadap lingkungannya. Pengalaman yang dimaksud di sini adalah pengalaman yang tidak hanya dialami secara fisik, namun juga khususnya secara mental. Selalu ada kemungkinan bahwa beberapa hal yang dianggap tua, bahkan di alam pikir sekalipun, dapat terhapus atau terserap dengan dengan baik tergantung pada kondisi mental seseorang. Konklusi bahwa masa lalu akan dilestarikan di alam mental.

Kembali. Memang hak apa yang dimiliki oleh perasaan kesamuderarayaan ini untuk dapat dianggap sebagai sumber kebutuhan-kebutuhan religius. Seharusnya, hak ini tidak bersifat memaksa. Lagipula, sebuah perasaan hanya  bisa mejadi sumber energi jika ia sendiri adalah bentuk pengungkapan dari suatu kebutuhan yang kuat.

Sudahkah?

*kata kesamuderarayaan pertama kali digunakan Romain Rolland saat menulis kepada Sigmund Freud.