Segala yang tersohor di muka bumi ini berkembang dan mengambil bentuk dalam suatu mimik. Suatu drama. Suatu pencitraan kisah yang sengaja ditulis dengan jalan yang tidak mudah. Yang orang bilang dan tampilkan dalam wujud pentas, sebagai sandiwara, sebagai contoh, dan diharapkan akan mengajarkan.

Tapi saya tahu bukan karena itu ia dipentaskan. Sesungguhnya, ia adalah bentuk nyata dari pengalaman hidup. Wujud riil yang pernah terjadi pada satu siklus kehidupan sepotong jiwa. Ekses dari segala macam perasaan keduniawian. Suatu pentas di mana usia menjadi latarnya, di mana kematian menjadi kelambu terakhir yang tertutup. Suatu pentas yang sepi dan esa. Tanpa penonton. Tak ada pesan moral apapun yang tersemat.

Karena pada dasarnya setiap sufi tidak berkisah untuk mengajarkan atau menghibur. Mereka berkisah untuk menunjukkan eksistensinya yang ragawi dan penuh. Untuk meninggikan derajatnya saat orang lain mendengar. Untuk mencurahkan apa yang ada di hatinya. Tak pernah alasan kebesaran orang lain mengalahkan kebesaran dirinya. Jika kisah itu mengajarkan, pastilah pengalamannya sudah mengajarkan dirinya lebih banyak. Jika kisah itu menghibur, pastilah dirinya sudah terlebih dahulu terhibur. Seperti halnya pelantun yang meracik bebunyian menjadi tembang, mereka adalah orang-orang yang pandai dan sendiri.

Panggung itu kemudian hanyalah menjadi panggung. Gedebuk kayu tua yang nyaring saat diketuk, yang melapuk saat terguyur. Pun permainan drama tetap berjalan. Hanya saja kini panggungnya adalah tanah dan rumput ini, negeri ini. Tidak ada lampu tembak melainkan rembulan yang menggantikan. Isakan bayi-bayi minta susu menjadi latar suara yang mendayu. Aksi seorang muda yang memimpin menjadi cameo andalannya. Dan untuk melengkapinya, berita gelandangan tua dan tunasegala mati di sudut stasiun menjadi lagu pembukanya.

Bahwa drama akan tetap ada apapun gedung pertunjukkannya. Karena setiap orang adalah sufi. Karena selalu ada kisah untuk dikisahkan. Kisah-kisah yang disampaikan dengan cara yang menghenyuk dan menggugah. Tersembunyi dan melekat. Suatu sajian dramatis dari suatu pengalaman yang paling batin. Yang tidak bisa diartikulasikan hanya dengan berkomunikasi, namun dengan berekspresi.

Bahwa drama akan tetap ada senihil apapun penontonnya. Sepi dan esa.

Solo, 8 Juni 2011