Yang dapat menjelaskan tujuan hidup ialah hal keagamaan. Di luar itu, tujuan manusia hidup adalah kebahagiaan. Parameter kebahagiaan ditentukan oleh konstitusi manusia itu sendiri. Kriteria bahagia lambat laun menjadi semakin sempit. Ketidakbahagiaan jauh lebih mudah dialami. Manusia kemudian akan mengatakan bahwa kehidupan adalah objek yang terlalu berat untuk dialami seseorang. Ia membawa terlalu banyak penderitaan, kekecewaan, dan tugas-tugas sulit yang hampir mustahil. Untuk memikulnya, kita tidak dapat melakukannya tanpa membangun atau membuat alat-alat bantu.

Akan ada tiga jalan yang muncul bagi mereka yang tersuliti: pembelokan yang sangat kuat yang menyebabkan mereka menganggap enteng penderitaannya, kepuasan pengganti yang akan mengurangi penderitaan tersebut, dan substansi-substansi memabukkan yang membuat mereka tidak mengindahkan perasaan derita.

Seperti apakah pembelokan yang sangat kuat? Apa itu adalah doktrin dan sugesti? Mungkin benar doktrin dan sugesti, namun aktivitas keilmiahan adalah jelas suatu jenis pembelokan.

Seperti apakah kepuasan pengganti? Kesenian menawarkan kepuasan pengganti. Mereka adalah ilusi-ilusi yang berkebalikan dengan realitas. Mereka dapat menempatkan pahit di tempat yang sama dengan manis.

Seperti apakah substansi memabukkan? Adalah substansi kimiawi yang akan mempengaruhi organ-organ dalam diri kita sendiri. Semua penderitaan tak lain adalah sensasi, ia hanya ada sepanjang kita merasakannya, dan kita merasakannya sebagai konsekuensi dari cara-cara tertentu dalam mengatur organ-organ kita. Adapun usaha menekan sensibilitas dalam merasakan impuls ketidaksenangan bisa dilakukan dengan metode selain pemberian substansi kimiawi, yaitu akibat penyimpangan kejiwaan. Penyimpangan kejiwaan ini disebut dengan mania.

Bukan hal yang mudah untuk dapat melihat letak agama dalam ketiga rangkaian di atas. Karena pada dasarnya agama tidak semata-mata menyolusikan ketidakbahagiaan. Bahkan lebih jauh agama membatasi pilihan dan adaptasi karena ia memaksakan jalurnya sendiri pada setiap orang, yaitu jalur untuk memperoleh kebahagiaan dan perlindungan terhadap penderitaan melalui distorsi citra dunia nyata dalam bentuk-bentuk delusional yang berujung kepada delusi massa. Sesungguhnya banyak cara untuk menyelamatkan diri dari ketidakbahagiaan, namun jika memang kehidupan tidak memiliki tujuan, nyatalah bahwa ia telah kehilangan semua nilai di dalamnya.

Sekali lagi saya mengatakan, saat tujuan hidup manusia hanya berorientasi pada kebahagiaan mereka akan mengalami kesulitan akibat sempitnya kriteria bahagia yang mereka buat sendiri. Ketidakbahagiaan jauh lebih mudah dialami. Khususnya, apalagi, bagi orang-orang yang tidak mengenal agama. Saya menggolongkannya sebagai kaum yang tidak memiliki rasa ikhlas dan tawakal.

Ketika saya berbicara tentang agama di sini saya tidak berbicara tentang manusia dan tuhannya. Saya sudah bosan memikirkan hal itu. Saat ini saya lebih tertarik melihat agama sebagai daya tarik satu individu. Bukan melihat apa yang ditetapkan agama dalam hubungan vertikal maupun horizontal, melainkan titik. Dengan begitu mungkin saya dapat lebih memahami makna ikhlas.

Bandung, Agustus 2011