Menjadi sepertimu merupakan keindahan. Keindahan yang menolak komentar manapun yang akan membuatnya menjadi nisbi, dan kemudian mengangkatmu begitu tinggi sampai di kedudukan yang absolut. Indah dan tak terjangkau.

Menjadi sepertimu bagaikan dogma-dogma yang Bunda berikan kepada kami anak sahaya. Masuk ke dalam telinga-telinga kecil kami. Berjanji memberikan damai. Datang di satu bagian fajar yang tak pernah kutemui.

Menjadi sepertimu sama saja menjadikan diri ini binatang. Liar dan berliur. Menggila untuk memiliki, menguasai, mendamba. Hingga pada akhirnya cukup posesif untuk dibilang cengeng saat kau tidak dekat. Hingga pada akhirnya balik ke kandang saja mencari aman, menyerah, hidup dalam jerami.

Menjadi sepertimu membuatku tuna dan renta. Buta akan asa. Tuli akan penghiburan. Kubuang logika dan kusemayamkan rasa. Entah kenapa, manis tak lagi menjadi manis. Aku bisu, lalu berbohong.

Menjadi sepertimu adalah anugerahku dan kemustahilannya. Tak akan pernah ada keinginan sebesar ini untuk kembali dan menghargai jika bukan tentangmu. Aku akan perangi jamahan masa. Aku akan beri harapan kosong pada ketidakmungkinan.

Dan berbagai bentuk dunia menjadi sepertimu, alunmu, harummu, lakumu, pahitmu, sebagaimana dirimu mewakili keduniawiannya. Menjaga hatiku agar tetapmu saat melihat ujung-ujung dunia. Memaksaku untuk tetap pada dirimu, wahai wujud duniawi suatu penghuni langit.

Aku tidak bersedia menjadi orang lain yang mau selain kamu.

Aku tidak bersedia menjadi orang lain yang mau selain kamu.

Aku ingin menulis namamu.

Ketika aku mengamini perkataan mereka, “Tak akan pernah usai cintaku padamu”.