Meskipun bertentangan dengan semua bukti atau fakta yang bisa diinderanya, seorang lelaki yang sedang jatuh cinta akan mengikrarkan “aku” dan “kamu” adalah satu, dan siap untuk bertindak seolah-olah itu adalah suatu kebenaran. Ia lalu akan memperjuangkan kebenaran itu dan akan memerangi apapun yang akan menggoyahkan kebenaran itu.

——-

Saya sering bertanya dalam hati: seberapa besarkah keberanian yang saya sanggup miliki untuk sesuatu yang saya anggap benar. Lalu Nietzsche melalui Thus Spake Zarathustra memberikan pertanyaan balik kepada saya, “How much truth does it dare?”

Kebenaran akan menjadi kebenaran jika terdapat keberanian untuk mengungkapkannya. Sampai saat ini, kebanyakan dari kita akan tanpa rasa takut untuk menyuarakan fakta-fakta kecil yang kita tahu pasti bahwa itu benar. Misalnya, kita tanpa ragu akan mengiyakan bahwa dua puluh lima merupakan hasil perkalian lima dengan lima. Atau seorang anak yang yakin bahwa ia adalah anak biologis dari kedua orang tuanya.

Betul adanya bahwa contoh kebenaran-kebenaran di atas akan dianggap sebagai kebenaran apabila dapat dibuktikan secara ilmiah. Melalui aktivitas ilmiah kita dapat mengetahui fakta-fakta penyusun yang dapat mendukung sebuah pendapat untuk menjadi sebuah kebenaran. Pun demikian memang seberapa banyak fakta penyusun yang perlu untuk dicari tahu sehingga dianggap cukup sebagai bukti bahwa itu benar (Zarathustra mempertanyakannya dengan “How much truth does it dare?”).

Saya rasa seorang anak tidak perlu sampai mencari fakta bahwa DNA-nya memiliki korelasi dengan DNA kedua orang tuanya agar ia berani percaya bahwa ia adalah anak mereka. Ia tidak memerlukan banyak fakta-fakta lain untuk memantapkan keberaniannya. Di sisi lain, mudah bagi kita untuk melakukan pembuktian bahwa dua puluh lima adalah hasil perkalian lima dengan lima, cukup memerlukan lima buah telapak tangan dan kita akan tahu hasilnya.

Dapat terlihat bahwa besar kecilnya fakta penyusun dan proporsi dalam penggunaannya sebagai sajian pendukung kebenaran berbeda-beda untuk setiap pernyataan. Kita tidak perlu ‘menuntaskan’ aktivitas pembuktian ilmiah untuk cukup berani (=dare) mengatakan kebenaran. Bahkan dalam beberapa kasus, manusia sama sekali tidak melakukan aktivitas pembuktian ilmiah melainkan mengikuti mayoritas suara dalam masyarakat. Fenomena ini timbul akibat adanya nilai dan norma yang tumbuh dalam masyarakat. Nilai dan norma ini menyebabkan satu individu menjadi berani apabila (ber)sama dengan komunitas dan sebaliknya, akan takut bila tidak (ber)sama dengan komunitas. Ingat kasus Galileo Galilei dan paham heliosentris.

Pertumbuhan nilai dan norma merupakan sesuatu yang wajar terjadi dalam masyarakat. Sayangnya, tidak seluruhnya apa yang disuarakan masyarakat berwujud fakta melainkan hanya sekedar opini. Namun bagaimanapun juga, kebenaran yang terlahir dari opini publik ini (saya menyebutnya sebagai kondisi zero truth) akan tetap dianggap sebagai kebenaran sampai ada pernyataan kebenaran lain yang melawannya. Saat perlawanan itu terjadi maka masing-masing kubu akan saling bertanya “How much truth do you dare?” .

Kebenaran terlahir dari fakta dan pembuktian. Sedangkan keberanian bisa datang dari mana saja. Ia bisa datang dari keangkuhan, keputusasaan, keyakinan, maupun kebersamaan. Tanpa adanya keberanian untuk mengungkapkan, kebenaran tidak akan pernah menjadi kebenaran. Kebenaran yang tidak berani untuk diperjuangkan hanyalah omong kosong. Memang, akan menjadi hal yang polemik bila mengaitkan kebenaran dengan keberanian yang muncul dalam kondisi zero truth. Tapi saya kira polemik di kemudian hari lebih baik dibandingkan dengan tidak memiliki apa-apa.

——-

Meskipun bertentangan dengan semua bukti atau fakta yang bisa saya inderai, saya yang sedang jatuh cinta akan mengikrarkan “saya” dan “kamu” adalah satu, dan siap untuk bertindak seolah-olah itu adalah suatu kebenaran. Saya lalu akan memperjuangkan kebenaran itu dan akan memerangi apapun yang akan menggoyahkan kebenaran itu.

Jakarta, 6 September 2011, 0:10