Pagi itu seorang gadis kecil meninggal. Namanya Putri. Tergolek dalam sumur air tanah. Ia terlepas dari genggaman orang tuanya saat sedang berlari menyelamatkan diri dari lima ratus petugas. Keadaan hiruk pikuk di dalam area konsesi. Tujuh ratus pondok di Desa Suluk Bongkal terbakar akibat api yang dilemparkan dari helikopter. Batu berhamburan menjadi hujan. Warga membuat pagar betis dengan kaum perempuan pada barisan depan. Menjadikan mereka pion yang menangis dan histeris. Berharap pada moral yang tersisa pada lawannya karena tahu dirinya sudah lebih dulu tidak bermoral. Namun harapan tak terwujud. Puluhan dari mereka roboh terluka. Mereka yang melarikan diri tetap dikejar oleh petugas. Tak diizinkan satupun dari mereka lari dari medan perang. Sembilan ratus kepala keluarga kehilangan mata pencaharian dan terpaksa tinggal di dalam hutan. Lima ratus petugas dicaci dan dikutuk. Dua puluh warga ditangkap dan hilang tak kembali. Satu orang gadis tak berdosa berumur dua setengah tahun mengakhiri hidupnya.

Semua orang bertanya, adakah setidaknya satu orang yang memiliki rasa. Ke mana perginya iba dan dari mana datangnya kesumat. Jikapun ada seseorang yang memiliki rasa saat itu, tentunya ia tidak diceritakan. Berita tak tertarik. Tragedi lebih menjual daripada budi baik. Seperti halnya kita kini tidak tahu bahwa ada seorang petugas muda yang terobek hatinya saat itu. Yang hanya lari ke sana ke mari namun tidak jelas benar mau ke mana. Tongkat polisi miliknya tergenggam erat dalam tangannya yang gentar. Terkejut bahwa dirinya menjadi bagian dari neraka untuk orang lain. Terkejut bahwa nafkah dan perintah dapat mengendalikannya sejauh itu. Ia tidak siap.

Saat itu ia sadar bahwa dunianya memang bekerja dengan cara seperti itu. Manusia mengambil peran dan kemudian peran mengambil kemanusiaan. Kita masing-masing akan bergerak menuju sisi-sisi mata uang yang berbeda. Penghayatan peran tingkat tinggi ini kemudian dibenarkan atas nama profesionalisme. Suatu pembenaran yang dipaksakan atas tindakan-tindakan tak beralasan. Manusia mulai kehilangan demarkasi tentang apa yang menuntutnya. Bekerja dan membudak menjadi tidak ada bedanya.

Ketika menulis tulisan ini saya teringat pelajaran pendidikan pancasila dan kewarganegaraan di sekolah dasar dulu. Pada bab-babnya tertulis toleransi, tenggang rasa, dan kata sifat berbau moral lainnya. Saya tersenyum sendiri membayangkan loncatan konklusi yang saya dapat. Jika kementrian pendidikan republik ini benar, maka dasar pertama untuk membangun negara adalah perasaan. Itu mungkin sebabnya asal usul keluarga memiliki peran penting dalam tumbuh kembang seseorang yang sosialis. Saya pernah berbincang dengan seorang bapak. Ia berkata kepada saya bahwa naungan sebuah keluargalah yang dapat menumbuhkan rasa iba dan simpati pada diri seseorang. Kau yang tumbuh liar di dalam hutan tidak akan mengerti kenikmatan dalam berbagi karena hanya ada dua interaksi dalam rantai makanan: memakan atau di makan. Pikiran sinikal saya muncul, peradaban dan industri tentunya sudah menjadi bentuk lain dari rantai makanan. Agaknya kini menjadi lebih sulit bagi manusia untuk belajar merasa dan keluar dari jeratan rantai makanan. Beruntunglah mereka yang memiliki wanita. Makhluk yang memiliki kemampuan merasa yang luar biasa.

Jika suatu hari nanti saya menjadi seseorang, saya tidak ingin terus berperan dan berpura karena saya adalah salah satu penggemar berat manusia. Saya selalu kagum dengan bagaimana manusia menempatkan rasa di dalam dirinya. Saat bunyi, aroma, memori, citra, dan respon bermuara menjadi rasa. Saat dopamin bekerja menggelontorkan segumpal darah ekstra ke dalam jantung. Saat semburat senyum tergores pada paras. Saya berharap selalu ada sesuatu (seseorang) yang datang memotong perjalanan saya dan mengingatkan kembali bagaimana cara menikmati kenikmatan. Sesuatu yang membuat saya gentar, sesuatu yang membuat saya meluluh. Sesuatu yang sama seperti yang dirasakan petugas muda di Desa Suluk Bongkal itu.

Senang rasanya masih memiliki alasan untuk bersikap lembut dan ramah. Meruntuhkan keangkuhan dan pasrah pada keindahan yang diterima. Keluar dari kulit untuk bertemu dengan apa yang kusebut pengecualian. Saya bersyukur telah meluluh. Saya ingin tetap meluluh.

Bandung, November 2011, 2:40