Ada baiknya menjadi seorang petani. Berdua duduk di bawah hujan bersama istri. Mengakhiri sore dengan setengah tersembunyi di tengah warna hijau sawah yang lapang. Menikmati tiap bulir air yang menerpa dalam diam. Sekali dua kali bulir-bulir itu membeku dan mampir bersama angin. Kami menggigil dan hanya meringkuk lebih rapat. Bertanya dalam hati akankah kentang-kentang kami beku lalu mati? Tapi tak apa, kami masih dapat menuai cabai, kubis, dan wortel. Pun jika itu-itu mati, tak apa juga, biarkan. Kami sudah tenteram di sini, berjongkong di atas tanah yang basah dan dingin dalam sebuah penantian. Kami telah menemukan damai di dalamnya. Menjadi petani adalah menjadi penanti. Menempatkan diri dalam jeda waktu antar dua kondisi. Ada segenap keyakinan dalam penantian yang tidak dapat disamakan dengan berharap ataupun berdoa. Dalam menanti, keyakinan menyatakan bahwa kondisi yang terjanjikan pasti akan datang. Maka menanti hanyalah masalah bagaimana mengisi waktu menjelang fakta yang jelas akan terjadi. Seperti menunggu hadiah yang kau tahu isinya. Seperti mengambil nafas antar dua babak. Itu sebabnya kami nyaman duduk di sini. Menjamahi sudut-sudut pikiran dan hati sepenuhnya setelah kami pekerjakan tangan dan kaki kami.

Aku ingat pernah bermimpi akan suatu tempat tanpa kabut. Tempat terbuka dengan banyak air yang teramat sangat biru. Tak ada zat lain dari alam yang dapat mengalahkan kebiruannya. Air-air itu bersatu dalam gelombang, naik dan turun. Aku melongok ke bawah dan melihat betapa dalamnya air itu. Di jajarannya tumbuh berbaris bakau-bakau besar. Di antara akar bakau-bakau tersebar banyak sekali teratai. Menggoda imajinasi seakan sang bakau raksasa ikut mengapung dalam gelombang. Dalam satu terpaan ombak, aku bertanya kepada sejawat, “mengapa air dapat sebiru itu?”

“Memang begini di tempat kami” jawabnya.

Apa mungkin tempat ini adalah danau? Danau yang memiliki keperkasaan lautan, punya pasang dan punya gelombang. Ah sungguh biru itu menular masuk ke dalam hatiku. Apa yang kurasa sebagai sanubari kini menjadi bahari. Rasa yang kukira dulu pernah kurasa saat kecil. Kalau ibu pergi sampai malam, rasanya aku bisa santai hingga jatiku yang paling dalam. Berimajinasi dan meliar dalam pejamku. Bagiku dan dia yang seumur hidup tinggal dalam kabut abadi Tanah Dieng mungkin bermimpi adalah cara terpraktis untuk keluar darinya. Bagaimana tidak? Kami adalah petani gunung, kami tidak melihat laut. Air yang kami lihat tidak pernah dalam jumlah sebanyak dan sebiru itu.

Namun sehebat apapun kami bermimpi, tentu hanya rasa yang terbawa saat membuka mata. Tak pernah pejal, hanya rasa. Mimpi mengingatkan kami apa yang ada di luar sana dan di mana kami berada. Mengingatkan apa yang kami punya dan apa yang kami tanam. Di sini kami berada, memakan apa yang kami tanam. Kami hidup dan tidak perlu yang lain. Yang pejal ya kentang-kentang ini. Walau kini beku dan siap mati.

Tak masalah segelontor angin menerpa, kami bisa menghangatkan satu sama lain. Tak masalah kami tak dapat panen, kami bisa mencangkul lagi. Tak masalah aku tidak pernah melihat biru itu lagi. Tak masalah semuanya, karena kau tahu? Aku belum selesai dalam penantianku. Aku bahkan sanggup lebih lama seribu tahun lagi. Biarkan semuanya pada tempatnya. Aku tahu apa yang aku yakini akan datang pada akhirnya. Aku yakin hujan ini akan berakhir sebagaimana kuyakin akan turun kembali esok sore. Aku yakin kentang-kentang ini akan masak dan mengepul dalam genggam istriku. Aku petani, aku melulu pada keyakinanku. Karena pada akhirnya apa yang kutahu sebagai kebenaran adalah apa yang selama ini berhasil kupertahankan sebagai kesetiaan.

Dalam penantian kami belajar kesetiaan dan dalam penantian kami belajar diam. Jelas ada perbedaan yang besar antara duduk berdiam diri dengan tidak melakukan apa-apa. Kami belajar itu. Sungguh… ada baiknya menjadi seorang petani.

Dieng, November 2011