Selewat pukul satu malam itu ia di sana. Pria yang melenggang tanpa sehelai benang pun. Benda yang menempel padanya hanyalah topi usang, sebelah anting, dan sepasang sepatu yang tak cocok satu sama lain. Mungkin juga beserta segenggam masa bodoh dan seteguk kenekatan karena saya tahu betul ia tidak gila. Ada intensitas dan kesadaran dalam gerakannya. Maka apalagi yang dapat membuatnya seperti itu.

Sosok itu telanjang ke sana ke mari membawa tubuhnya yang penuh lumpur menghampiri mobil-mobil yang menunggu lampu merah. Melekatkan wajahnya ke jendela supir walau tentu tak ada yang berani menurunkan sesenti kaca untuknya. Ia tak peduli, perlahan dan pasti satu demi satu mobil disinggahinya. Bersamanya, ia membawa seekor anjing hitam yang terantai ke pagar rumput pada median jalan. Anjing itu sama kurusnya dengan majikannya. Tulang-tulang mereka meraga di balik kulit masing-masing. Entah modus apa yang ada di benaknya. Intimidasikah? Belas kasihankah? Atau ternyata ini bagian dari pungkur keterpurukan yang tidak pernah saya sadari. Saya seperti dipaksa melihat sebuah gambar yang merusak logika. Belum pernah saya melihat ketiadaan akal sehat lebih dari ini.

Sial. Tampaknya kota ini sudah menzina penduduknya terlampau jauh. Menyerap saripati dari sang inang yang telah terampas kehormatannya sampai kering. Represif dengan segala tekanan dan tuntutan. Menjadikan mereka aditif satu sama lain. Mengapa sih tak lari saja dari kota ini? Pergi menyepi. Buat nama baru, wajah baru, cukur kumis, dan makan tumbuh-tumbuhan. Berevolusi menjadi makhluk yang lebih dungu dan sederhana. Apa kau berusaha menunjukkan bahwa kau kesatria yang lebih berani dari saya? Yang tak pernah lari? Karena berkatmu di kepala ini kini hanya tergambar skenario sebuah indikator anti-peradaban: seseorang menelanjangi dirinya–dengan membawa anjing–dan menempelkan tubuhnya pada kaca mobil–limaratus meter dari halaman mesjid. Sebuah gambaran nyata dari prestasi terbesar anak iblis.

Tapi tunggu, jangan salahkan iblis. Sesungguhnya mereka sedang ongkang-ongkang kaki sekarang. Cukup dengan membuang perikemanusiaan maka manusia akan tersesat dengan sendirinya. Atau jangan-jangan kita bukan ‘manusia’ yang dibicarakan di kitab-kitab itu. Kita hanyalah Homo erectus yang kebetulan punya secuil akal dan sejulur lidah. Gundukan daging yang keji tanpa isi. Tidak lebih tinggi dari anjing hitam yang dibawanya: sebuah spesies, tidak lebih.

Teman yang budiman, mungkin saya harus berpikir lain. Bahwa ini semua hanyalah sebuah bentuk apresiasi seni. Dengan telanjang itu, dengan anjing itu. Sebuah seni tingkat tinggi yang hanya bisa dipahami orang-orang yang bebas dan merdeka. Tak terikat norma ataupun moral. Layaknya seni, ia memutarbalikkan semua yang kita percaya dan membuat kita hanya mengangguk lalu bergumam, “C’est de l’art”. Kalau memang begitu jelas kota ini telah bertransformasi menjadi sebuah galeri eksibisi seni dengan kegilaan, mayat-mayat, lapar, dan hal-hal tercela terbingkai manis menggantung di dinding-dindingnya. Orang-orang hanya akan berjalan dari bingkai satu ke bingkai lain tanpa rasa khawatir dan memandang hambar dosa yang mereka lihat. Dalam seni tentunya dosa tidaklah buruk, hanya sekedar sapuan cat minyak hitam di atas kanvas putih.

Sejujurnya saya tidak tahu benar apa yang pria itu inginkan, karena tidak ada satupun yang memberinya uang dan saya tidak bisa menerka apa benar uang yang ia inginkan. Pikiran bodoh saya hanya berharap ada hal lain yang tidak dapat saya pahami dan ada hal yang lebih dari sekedar uang yang pria itu minta. Namun tentu akan teramat naif bila saya terima sebuah pemikiran bodoh betapapun mulianya pemikiran itu. Tentu saja semua orang tahu apa yang sedang terjadi. Mereka tahu walau mereka tidak membicarakannya. Saat pagi berkumandang esok mereka akan tetap sarapan dan pergi bekerja. Apa yang terjadi di malam hari hanyalah sekumpulan keremangan dalam gelap yang tidak perlu diambil pusing.

Saya benci merajuk dan memandang sinis. Namun sungguh tidak ada pemahaman lain yang dapat menjelaskan kehadiran dirinya. Maka saya hanya dapat berkata, “dan Homo erectus tetap melangkah, melindas tikus gepeng di jalan hingga menyatu dengan aspal”.

Februari 2012