Lagi-lagi dia kembali berulah. Hari ini ia memberikan duapuluhdua ucapan yang tak diberikan orang lain. Membuka kembali tanda tanya di balik tabir. Bagiku, apakah dia. Baginya, apakah aku. Yang Sebenarnya menjadi terlalu kusut untuk terwujud. Hanya lelah yang ada. Maka kami, dan kamu, beserta mereka, diam-diam mengarang. Kita tak mau lelah.

Tapi mengapa?

Mengapa harus begitu berbeda? Mengapa tak seperti yang lain? Biasa-biasa saja namun manis. Kalau begini di relung mana harus kutaruh? Tak pernah kuberharap mendapat apa yang Bima ataupun Naraya lain dapat. Sungguh. Aku bahkan telah mengganti doa-doaku sejak lama sekali.

Sang Hyang dan dua temannya tampak muram memandang dari balik langit tembaga.

Bilakah ini istimewa? Ia yang kukubur dalam-dalam nyatanya bertunas semakin subur. Aku tak menyangka tanah terdalam justru memberi nutrisi paling lebih. Membuatnya menjalar dengan sangat cepat. Sekarang tunasnya sudah muncul di permukaan. Mengusik kejemuan di antara hamparan tandus, memaksa mata untuk melihatnya.

Maka Bandung melihatnya, melihat kuntumnya, melihat ranumnya.
Maka Bandung menciumnya, mencium harumnya, karena kedekatannya.

Mungkinkah reaksiku berlebihan saat menerima secuil kebaikan di sela-sela hidupku yang nelangsa? Tapi aku cuma ingin memujimu tanpa maksud lain. Itu saja. Suatu hari nanti kaki ini akan lelah lalu mengakar di sampingmu. Menjadikanku yang ke seribusatu. Selamanya kekal dalam jarak.

Sebelum sebutir debu tercipta, Bandung meyakinkan:

Jangan terusik, karena aku tidak akan memaksa. Sudah terlalu banyak doa dari para manusia yang Sang Hyang harus kabulkan. Aku tak ingin menambah jumlah itu.

Tak pelu terusik, karena ini bukan tentang permintaan. Ini adalah catatan yang tak tertuju. Tak ada pesan, hanya guratan aksara yang akan mengerak sejuta tahun lagi.

Kau tak akan terusik, karena sebenarnya aku tidak pernah beranjak dari dasar Jalatunda.

Di kedalaman ini, aku hanya akan melihat apa yang kuingin lihat. Tapi sebodoh, biar saja terus seperti ini. Aku tak keberatan abadi dalam ambang. Kelak namamu akan menjadi judul bab dua dalam biografiku yang panjang.

Kita hanyalah anak kecil yang lari dan ketemu. Malapetaka yang menunggu untuk celaka. Tak ada apa-apa kasih di balik tudung agung. Tak ada apa-apa pula di atas sana. Genggammu pada kantong air penuh kecebong mengendur. Kita jongkok berdua lama sekali.

Maka Bandung menghela napas panjang di dalam Jalatunda yang sesak.

Gemas dan gembira melebur. Membuat jantung kempis dan kempis lagi. Ingin ia ucapkan lebih dari syukur, namun tak ada kata yang dapat mewakilkannya. Ia paling benci berhutang. Namun nyatanya ia tidak bisa menghindar dari banyaknya orang-orang baik di Bumi ini, tak terkecuali Gupala. Maka inilah ia, melegenda dalam pupus.

Aku tak ingin terlihat seperti berbicara dengan kamu yang tuli, walau kau diam adalah sebabku. Tapi sekali lagi terimakasih. Terimakasih. (Aku harap kau bisa melihat mataku saat aku mengucapkannya). Terimakasih atas hal-hal yang pernah kau berikan dengan tulus dari hatimu kepadaku. Tak ada yang lebih membahagiakan daripada itu.

23:49 Hotel Kristal, Tarogong, Jakarta