Pada tahun 1996, saat itu Ibu sedang melakukan panggilan telepon di sebuah warung jasa telekomunikasi. Yang dihubunginya adalah ayah seorang kerabat Ibu dari Jepang. Di akhir pembicaraan Ibu menyampaikan terimakasih dengan berkata ”Domo Arigato…”. Sejurus berikutnya saya berteriak ”SUUDOOMO!!”. Kontan lawan bicara Ibu dan penjaga warung lepas dalam tawa.

Mari mengenang Sudomo, seorang mantan jenderal yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf TNI, Pangkopkamtib, menteri, hingga ketua Dewan Pertimbangan Agung pada masa kejayaan Orde Baru. Jabatan-jabatan tinggi yang tampaknya terlalu sangar untuk wajahnya yang sayu dan penuh damai.

Dulu sekali, Sudomo menjadi salah satu tokoh yang menempel di kepala saya yang ketika itu masih bocah berumur enam tahun. Bukan karena saya tahu beliau, tapi karena waktu itu memang nama Sudomo kerap dibicarakan pembawa berita di TVRI. Beruntut sejak tahun 1994 sampai tahun 1996, Sudomo mengumbar sensasi mulai dari persoalan kehidupan pribadinya, kasus Bapindo, hingga pelarian tersohor Edy Tansil.

Kisah-kisah ini raup dilahap media yang mulai merasa jemu dengan kelanggengan Soeharto. Bagi mereka, bergunjing tentang Sudomo–yang merupakan kroni terdekat Soeharto–adalah salah satu sarana pelampiasan luapan emosi pada hal yang sama sekali lain. Maka untuk saya kecil, Sudomo seketika menjadi seperti kosakata baru yang saya celotehkan tanpa arti. Tapi benarkah tanpa arti? Tentunya tidak, Sudomo di mata orang Indonesia merupakan salah satu tokoh yang penuh dengan kontroversi.

Sudomo mengawali debut di atas panggung sejarah Indonesia melalui pertempuran Laut Arafuru pada tahun 1962. Sudomo, yang sejak lulus SMP bergelut di dunia pelayaran, memimpin tiga kapal torpedo Angkatan Laut untuk membawa gerilyawan menyusup ke tanah Papua dalam misi pembebasan Irian Barat. Perang pun pecah, beberapa kapal perusak Belanda dihadang dengan berani di tengah perairan lepas. Kehancuran dan korban sama-sama dirasakan kedua belah pihak. Walaupun pada akhirnya kemenangan dan kebebasan menjadi milik pihak Indonesia, cibiran penuh spekulasi mengisi hari-hari setelahnya. Duka akibat kematian Komodor Yos Sudarso dan ABK dari KRI Macan Tutul membuahkan pertanyaan yang menyudutkan Sudomo atas kepemimpinannya.

Pun begitu, bakat dan nasib baik Sudomo ternyata tidak membuktikan adanya kecacatan pada dirinya dalam urusan memimpin. Seturunnya Sudomo dari Kepala Staf TNI AL, ia diangkat menjadi Kepala Staf Komando Pengendalian Keamanan dan Ketertiban. Konon, perseteruannya dengan Soemitro Sang Panglima Kopkamtib berakar pada malapetaka limabelas Januari (Malari) 1974. Sudomo awalnya diembani tanggung jawab atas keamanan ibukota, namun apa daya kerusuhan tetap terjadi. Ia sempat meminta pengunduran diri kepada Soemitro namun ditolak karena Soemitro menganggap bahwa Malari tak lain merupakan tanggung jawabnya. Hati besar Soemitro ini membawanya kepada penghujung karir, namun tidak untuk Sudomo.

Tahun berikutnya Sudomo naik menjadi Panglima Kopkamtib yang ia jalani selama sepuluh tahun di bawah Presiden Soeharto. Di balik keamanan dan ketertiban yang ia ciptakan, Sudomo lagi-lagi dicekal publik. Kali ini karena tuduhan pelanggaran HAM. Nama Petrus lahir sebagai wujud manifestasi peristiwa-peristiwa berdarah yang terjadi. Karung-karung isi mayat mengambang di sungai menjadi tidak mengejutkan pada masa itu. Semua darah yang tumpah diatasnamakan keamanan dan ketertiban. Terbukti, berpuluh tahun berikutnya Soeharto mengakui bahwa itu dilakukan sengaja sebagai shock therapy. Penjelasan ringan yang disampaikan seakan setiap pelor yang menembus daging adalah obat pilek buat si kecil. Itu sebabnya, walau aman masyarakat tak senang. Apalagi getir tentunya bagi Mochtar Kusumaatmaja sebagai Menteri Luar Negeri yang di kala itu harus berbibir manis habis-habisan di depan sidang Persatuan Bangsa-Bangsa untuk menjelaskan apa itu Petrus. Sudomo yang menjadi karib sehati Soeharto alhasil tak luput dari tudingan-tudingan getir ini.

Tak habis sampai di situ, cerita Sudomo di kancah sejarah Indonesia masih berlanjut. Memasuki tahun 1996 surat kabar ramai menyebut nama Edy Tansil. Jika kita buka kembali kliping surat kabar pada tahun tersebut maka nama Sudomo pasti tertulis dalam penggalannya. Edy Tansil, seorang direktur perusahaan yang divonis 20 tahun penjara dan harus membayar total denda 1,83 triliun rupiah karena menggelapkan uang sebesar 1,5 triliun rupah dari Bank Bapindo. Sudomo lah yang disebut sebagai orang yang memberikan katebelece sehingga memudahkan Edy Tansil mendapatkan kredit. Dan berikutnya seperti yang masyarakat tahu, Edy Tansil berhasil meloloskan diri dari jeruji bui dan hilang bagai kelinci di acara sulap. Untuk masalah ini, masyarakat kembali menominasikan nama Sudomo sebagai sang pesulap.

Terus terang, hal pertama yang saya lontar dalam komentar adalah bahwa Sudomo memiliki mental baja. Separuh hidupnya ia jalani dalam gunjingan. Sembilanpuluh persen artikel yang beredar tentang dirinya berisi hal-hal kontroversial. Ia bukan pesulap yang berusaha menipu, sambil menghibur penonton, dan mendengar pasar. Ia lebih seperti komposer yang tanpa ragu menulis musik peduli setan siapa yang suka. Saya tak meragukan kecakapannya dalam memimpin dan berdesisi. Orang yang kini berumur di atas 60 tahun juga pasti mengakuinya. Sudomo sepertinya sadar bahwa keputusan besar–dan–penting ada di tangannya; dan yang besar dan yang penting itulah yang ia nomor satukan. Hal-hal kecil atau tetekbengek tak perlu digubris. Keputusan diambil tidak selalu untuk menyenangkan semua pihak. Ekses dan ketidakpuasan pastilah ada. Dan selama tidak ada hal sistemik yang terganggu, tak jadi masalah, walaupun dirinya tidak diterima secara kultural. Posisi-posisi tinggi yang selalu ia emban menjadi bukti bahwa ia selalu mengelola agar keputusan besar–dan–penting tetap ada di tangannya karena tahu ia mampu.

Ada kutipan populer yang disampaikan Asvi Adam tentang Sudomo.

“Akan selalu ada orang yang berterima kasih pada Sudomo, pernah ditolong dan memperoleh kemajuan bisnis karena Sudomo. Tapi dari sisi korban pelanggaran HAM Orde Baru, menyengsarakan mereka. Sangat kontroversial,”

Asvi sendiri yang bergelut untuk meluruskan sejarah pra dan pasca Orde Baru sepertinya tidak bisa memutuskan apakah Sudomo tokoh protagonis atau antagonis. Mungkin setelah wawancaranya dengan Sudomo yang penuh dengan kelakar dalam siaran televisi, Asvi mengikhlaskan saja Sudomo apa adanya. Sudomo seperti koin yang selalu berputar. Tak perlu jatuh pada satu sisi untuk menunjukkan yang mana mukanya. Garuda (Indonesia) dan Angka (korban) akan selalu muncul bergantian seiring ia dibicarakan.

Tidak seperti Asvi, bukan menjadi hak saya untuk berusaha menyimpulkan sosok macam apa seorang Sudomo. Dan jikapun sebaliknya, saya kira tak akan ada seorang pun yang dapat melakukannya dengan baik. Akan ada sangat banyak dimensi untuk dipertimbangkan. Misalnya, tentu secara personal dan kekeluargaan ia memiliki berbagai kesan mendalam dan menyenangkan yang tak dapat diganggu gugat. Yang kita lakukan dalam buku sejarah hanyalah mempreteli satu sisi untuk menekankan apa yang ingin disampaikan, tidak secara apa adanya maupun menyeluruh. Sejarah seharusnya tidak menyimpul, manusianya-lah yang membuat simpulan.

Itulah yang menjadi dasar mengapa kontroversi di mata saya adalah daya tarik. Kontroversi menjadi bukti bahwa manusia berada dalam kehidupan yang beradab. Di mana para manusia terdiferensiasi dan merdeka dalam individu. Itu sebabnya opini selalu muncul dalam berbagai versi dan melahirkan kontra jika disandingkan. Di sisi objek opini, kontroversi menunjukkan bahwa ada perilaku yang tak sejalan dengan mainstream dunia. Bahwa kita tahu ada keputusan besar yang diambil. Bahwa ada pergolakan yang terjadi. Ada segenap keberanian dan nyali dalam kontroversi. Ada yang tak mudah dalam menjalankannya, ada yang tak menyenangkan.

Asvi dan yang lain tentu tahu betul akan hal itu dan kemudian memilih cara teradil dalam menilai: menyisir seorang Sudomo pada kehidupan profesionalnya. Tapi tentu tak ada cara yang salah, semua sah. Absahan ini saya kira juga berlaku untuk saya yang menulis tentangnya dan seputarnya. Saya percaya Sudomo tidak selalu tersenyum seperti yang kita lihat pada hari-hari tuanya. Ada kapabilitas dan perenungan panjang di balik semua kontroversi dan gugatan yang muncul. Ada capaian yang membuat namanya benar-benar besar, besar bukan karena hujatan.

Bagi saya pribadi mengenang Sudomo adalah sesederhana mengenang kelakar masa kecil saya, itu saja. Membawa kembali memori pada sebuah masa di mana semua serba lebih tenang dan sederhana. Untuk kebahagiaan akan kenangan itu, maka tulisan ini ditujukan untuk mengapresiasinya.

Tak ada salahnya menutup kenangan dengan doa. Mari kita berdoa. Terserah untuk siapa.

April 2012