Naiklah ke bukit kebun teh tertinggi Desa Citalahab di malam hari pada pertengahan bulan. Kau akan menemukan rupa bulan yang berbeda. Pendarnya berwarna jingga persis seperti jeruk. Tak berkilau, namun tegas. Julurkan lenganmu, lalu temukan ibu jari dan telunjuk membentuk lingkaran. Sebesar itulah lingkaran jingga yang menempel pada langit kala malam itu. Begitu bulat, begitu jingga, begitu dekat. Ia seperti sengaja hadir untuk menjadi entitas yang tunggal dan mencolok. Menolak untuk berbaur dengan hamparan daun teh yang temaram pada bukit yang bergelombang. Pula tak sudi disamakan dengan langit, kawannya yang kelabu. Jelas terlihat bahwa ia ingin menjadi pusat perhatian di antara kemegahan lansekap malam. Jika lansekap ini terlukiskan, maka dirinyalah yang menjadi pokok curahan hati sang pelukis. Paling banyak menguras tenaga untuk digambarkan. Arogan dalam keanggunannya.

Mereka menamai bukit ini Nirmala. Nama yang bermakna kudus. Tanpa cacat, tanpa celaka. Tempat yang sempurna untuk melarikan diri dari pelbagai kepentingan dan hal-hal yang tidak tulus. Saya tidak pernah benar-benar menyukai kemapanan. Saya lebih suka berada di tempat tanpa dinding dan atap, di mana tak ada penghalang antara langit dan ubun-ubun kepala. Bersatu sesama ciptaan. Tuhan memberikan sepasang kaki yang kuat agar kita turun menjelajah bumi-Nya yang dahsyat. Untuk melihat langsung. Untuk tidak sekedar membaca. Melainkan juga untuk mengalami. Itu sebabnya berada di sini malam ini menjadi sebuah kebutuhan bagi diri saya. Menjadi janji bahwa ideologi tidak akan terkotori.

Saya teringat kepada gadis muda yang menjadi teman berbincang dalam perjalanan menuju desa ini. Saya tidak bertanya namanya namun kami bicara banyak. Fenomena khas yang terjadi saat bertemu dengan seseorang di perjalanan, kau bisa menjadi terbuka kepada orang yang sama sekali asing bagimu. Orang yang mungkin tidak akan pernah kau temui kembali. Kepadanya kau tidak perlu curiga, kepadanya kau tidak perlu terjaga. Maka dengan sedikit dorongan kenyamanan, semuanya akan tumpah.

Sang gadis menceritakan segalanya. Umurnya belum tujuhbelas tahun namun ia memiliki ibu dan adik-adik yang harus ia hidupi. Darinya, saya tahu cita-cita yang ia idamkan. Darinya, saya tahu pergulatan batinnya. Hanya dua kota yang pernah ia singgahi seumur hidupnya. Tidak banyak yang ia lihat, maka ia tidak memiliki banyak pilihan. Lalu di antara jeda ia berpaling kepada saya. “Kalau kamu kenapa jauh-jauh ke sini? Apa yang kamu cari?”

Saya kembali menatap bulatan jingga di langit malam. Mengapa di atas sini kau tampak berbeda? Mengapa saya merasa tidak akan bertemu kembali denganmu yang hari ini? Mengapa saya takut kehilanganmu? Mengapa sekarang saya begitu menghargaimu? Apakah engkau jawaban pertanyaan gadis itu?

Bulan tak menjawab, dan Doel Sumbang tahu. Jika bulan memiliki jawaban maka ia tak akan berbohong.

Maka saya juga tidak akan berdusta, saya tidak pernah mencari apa-apa. Tak ada hal tertentu yang saya incar. Saya senang bertemu dengan bulan, dan bukit, dan dingin ini, tapi pada awalnya bukan mereka yang saya bayangkan akan saya temui. Satu-satunya yang menjadi dasar pergerakan diri saya adalah kepercayaan bahwa ada sesuatu yang begitu satu dan tak tergantikan. Sesuatu yang tidak akan kau syukuri hingga kau mengalaminya sendiri. Pula sesuatu yang tidak akan kau sesalkan jika kau tidak mengalaminya. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa kau terka karena kau bahkan tidak tahu bahwa ia ada. Sesuatu yang lebih dari sekedar unik ataupun tunggal.

Karena apa yang menjadi satu-satunya di alam ini belum tentu selamanya sendiri. Akan selalu ada subtitusi yang siap menggantikan secara fisik maupun fungsional. Tak perlu menjadi identik untuk dapat menggantikan sebuah sosok. Karena pula dalam kedewasaan, kita akan selalu berusaha menyesuaikan. Kita akan menemukan alternatif dari apa yang kita butuhkan, dan jika tidak, maka kita akan menurunkan standar kebutuhan itu sendiri. Setiap dari kita adalah eliksir.

Maka bukan tentang objek tunggal yang saya bicarakan. Melainkan perpaduan kehadiran seluruh alam semesta dalam sebuah momen. Sebuah suasana yang melibatkan segala-galanya; bersama bulan, bukit, angin, jangkrik, dan malam. Sebuah suasana yang akan menjadi berbeda tanpa saya hari ini, saya dahulu kala, gadis itu, cerita itu, lelah itu, ular itu. Dan ketika semua hal tersebut dapat diinderai, maka momen itu akan menjadi hal yang begitu satu dan tak tergantikan. Dan ini yang paling saya tunggu: kelahiran sensasi abadi dalam perenungan.

Hati saya yang merdeka telah menjejakkan kaki saya ke tempat-tempat yang luhur, membawa telinga saya mendengar bahasa yang berbeda. Terisolasi dalam rimbunnya daun teh, sepotong raga hanya bisa pasrah. Kembali terpental tak berdaya ke tengah-tengah, bergulat sendiri saja dengan pikiran yang bernyanyi. Mereka bilang waktu akan berlalu cepat saat kita merasa senang. Tapi tidak di sini. Di sini, kuasa dan kehendak bertemu. Bergumul satu menjadi sebuah ekstasi. Ah, baru saja pagi ini seorang kakek yang membawa pohon mangga mengajari saya falsafah Islam Jawa, tentang kodrat dan iradat. Kini saya paham apa yang ia maksud. Saya berhutang sebutir onde-onde kepadanya.

Saya kembali memandang bulan di ambang bukit yang temaram. Kabut mulai turun.

Tak banyak yang bisa dilakukan pada malam hari di desa ini. Selain usapan pengantar tidur ibu ke punggung si bungsu–atau bapak yang masih menguliti kayu bakar di belakang. Selepas itu, warga akan menghargai keagungan malam dengan lelap. Tetap membiarkan misteri bersembunyi dalam gelap dan halimun. Atau paling tidak, bagi seorang yang bukan warga setempat, ia akan naik ke atas bukit lalu menulis.

Desa Citalahab, 7 April 2012