Saat kiblat tak lagi ke Barat
Tenggat minggat bersama risau
Di situ para gundik tak lagi menggoda
Maka hanya satu ikrar yang diratap
Janji mati pada restu bumi

Seorang dari langit turun duduk di pundakku
Berbisik pelan sebuah firman
Mungkin juga kepada kami semua di sini
Untuk mendengar bahkan hingga suara terhalus
Pada bumi yang melaju di kiri dan kanan
Cepat dan sekedar

Di balik kaca aku melihat laki-laki ayu menari
Bukan banci, hanya kelewat gemulai dan semampai
Juga dengan bedak dan gincu
Menari tak berhenti
Berjingkrak, mendelik, melentik
Dengan begini, ia tahu perih memudar
Dengan begini cinta kan datang

Di balik kaca aku melihat pagoda menyala dari sebuah wihara
Muncul sendirian kala malam melarut
Kali ini siapa yang tidak menoleh?
Seluruh alam raya takzim
Ia yang tak ada saat mentari membakar
Ia yang rela habis disanding benderang

Di balik kaca yang sama aku melihat orang-orang sembahyang tarawih
Berpakaian putih-putih
Bersujud dan bersujud lagi
Diam-diam si begundal tengik ada di antara mereka
Melantunkan tobatnya yang teramat dalam

Aku ikut memejam, tapi tanpa tobat
Begitu juga dengan yang lain
Tulang ekor kami mulai terasa sakit
Kami mencium bau kami sendiri
Keringat dan lengket
Ada semilir anyir di antara kebusukan ini
Luka siapa yang membuka?

Di belakang, perempuan setengah baya tidur sekenanya
Bosan marah pada putranya yang membangkang
“Mending tidur,” katanya
“atau nyanyi!”

Kita semua suka berdendang, walau tak tahu lirik
Dalam alunan karaoke picisan
Semua sudi bahagia

Aku ingin menatap wajah kalian
Manusia-manusia tak bertobat
Lalu bertukar cerita tanpa harus tergesa
Mendengar lakon apa yang gusti berikan untuk masing-masing kita
Berhenti sejenak dari manuver edan
Mungkin di Kendal atau Subang

27 Juli 2012