Saya mengambil duduk paling belakang di antara orang-orang yang berdoa. Saya tidak ikut berdoa. Terkadang menerawang dalam diam sudah cukup memuaskan hati saya. Di tengah lembah Bukit Menoreh ini kesunyian adalah nafas. Hening menjadi satu syarat sekaligus kebutuhan. Tak ada yang tega mengeluarkan bising. Tak satu manusia, tak satu hewan, tak satu tumbuhan. Di sini, di bawah beringin terbesar, saya dan beberapa orang lain duduk di bangku-bangku kecil yang disediakan. Dalam bayangan kami duduk menghadap satu arah yang sama. Di ujung sana, di dalam gua itu, berdiri patung Bunda Maria berwarna pualam dikelilingi beberapa rangkaian bunga yang disematkan para peziarah. Mereka bercerita bahwa 83 tahun yang lalu patung ini dibawa langsung dari Swiss ke Desa Sentolo untuk kemudian diangkat beramai-ramai oleh umat Katolik Kalibawang menuju Sendangsono. Mulai saat itu masyarakat biasa menyebut tempat ini dengan Goa Maria.

Saya sendiri mengenal sosok tersebut melalui akar historis yang berbeda. Pun begitu kisah tentangnya bertema serupa: Maria atau Mary atau Maryam merupakan seorang wanita yang terkecuali. Ia, dari sekian banyak yang lain, terpilih menjadi wanita tersuci di alam semesta. Menjadi seorang ibu adalah mukjizatnya. Dalam satu cerita tentangnya, perlambangan kebesaran seorang ibu, harkat wanita, unsur ketuhanan dan kemanusiaan bersama-sama menyatu kental dan memberikan pelajaran yang lengkap dan berbeda.

Mungkin dulu pada masanya, kisah ketabahan Maryam lebih mengetuk pintu hati para pendengar dibandingkan cerita kepahlawanan dan pertumpahan darah yang melulu dikoarkan. Saya ingat dalam salah satu bukunya, Karen Armstrong memaparkan bahwa ada masa di mana teologi mulai mengenal gender dan bergerak ke arah yang feminin setelah lelah dengan maskulinitas yang dibawa oleh para dewa. Sejak masa-masa itulah masyarakat mulai memberikan kedudukan yang pantas dan tersendiri pada perempuan.

Lebih jauh membahas Maria, Armstrong berkata, “Maria terus diciptakan kembali … Dalam setiap zaman, orang mengubah definisi mereka tentang dirinya sesuai dengan keadaan mereka.”.

Armstrong ingin menyampaikan bahwa ‘Maria’ tidak lebih dari sebuah produk dari setiap budaya dan zaman. Setiap masyarakat memiliki hak, di bawah pandangan ini, untuk menciptakannya ‘dalam citra mereka sendiri’. Dalam budaya Barat pluralistik, pandangan apapun ditoleransi kecuali satu yang mengatakan, “Ini adalah Kebenaran”.

Saya kira Barat dan Timur tidak berbeda dulu atau kini. Khususnya dalam memandang sosok keibuan yang mungkin memiliki persona masing-masing di berbagai kesempatan. Hubungan maternal menjadi ikatan yang dekat dan tak terelakkan. Sosok ibu menawarkan perlindungan sejak kali pertama seorang anak terlahir. Ibu akan selalu menjadi tempat menaruh percaya. Ibu akan selalu menjadi tempat merasa aman.

Lamunan lalu membawa saya mengingat sebuah hubungan ibu dan anak yang mungkin sedikit berbeda dari kebanyakan cerita. Cerita ini mengenai Nur dan ibunya.

Nur, seorang perempuan yang dulu saya kenal, sebenarnya bernama ‘Tur’ walau ia tidak pernah dipanggil demikian. Nur anak yang santun dan rajin berdoa. Ia tipikal seseorang yang menggaris tebal-tebal apa yang halal dan apa yang haram. Ketika ada hal asing ditawarkan kepadanya ia akan takut. Ia akan lari dan bersembunyi. Ia sama sekali tidak ingin berbuat salah. Nur tidak ingin berdosa.

Nur memiliki seorang ibu yang menurunkan kesamaan paras di wajahnya. Potongan badan mereka pun mirip. Tak ada keraguan bahwa mereka menyayangi satu sama lain. Ironisnya, kepada ibundanya sendiri inilah konflik terbesar Nur terjadi.

Nur dijodohkan oleh ibunya dengan seorang pria asing. Si pria pertama kali bertemu dengan Ibu Nur di dalam bus. Ia mengaku kepada Ibu Nur bergaji dollar dan berminat untuk mempersunting Nur. Bahkan sedikitnya informasi ini ternyata bisa membuat Ibu Nur, yang sedang dalam keadaan putus asa, percaya dan mau. Memang saat itu Nur dan ibunya sudah cukup lama berada dalam masa sulit.

Bahwa keputusasaan yang teramat dalam nyatanya telah menutup kesehatan akal berpikir. Nur tahu itu. Atau Nur tidak tahu? Konflik yang terjadi pada batinnya akhirnya memaksanya mengamini perilaku ibunya walau ia tidak pernah yakin. Kemauan Sang Ibu ia turuti walau tidak ada lagi kepercayaan yang melandasi. Mungkin Nur lelah mempertahankan idealisme nuraninya dengan menangis di kolong tempat tidur sendirian. Itu sebabnya lebih baik ia ikut dengan ibunya, berdua lebih baik, berharap suatu hari ada penjelasan atau kata maaf yang terucap.

Pilu yang saya rasakan saat mengingat kisah Nur menggiring saya pada sebuah dalih lain. Jangan salahkan Ibu Nur. Mungkin dunia ini yang harusnya disalahkan. Dunia terlalu penuh dengan hal kotor, kesialan, dan hal yang tidak menyenangkan, sehingga begitu ada satu bisikan manis maka semua orang akan membelinya dengan membabibuta walau mereka tak yakin.

Saya tak berani membayangkan berapa lama Nur menangis saat mendapati kabar bahwa ibunya mencuri. Saya juga tak berani membayangkan dalamnya keputusasaan Ibu Nur hingga memutuskan melakukan hal yang radikal demi bertahan hidup.

Nur ataupun ibunya bukanlah Maryam, putri Imran, yang luar biasa tabah seperti dalam kisah. Sanggup untuk tetap suci di tengah gurun yang gersang di antara semua cobaan.

Tapi tunggu, ataukah mereka ternyata punya ketabahan itu? Hanya saja dunia yang dekil membuatnya tampak tak sehebat kisah Maryam. Bahwa mereka sudah mengorbankan beberapa potong nurani di hatinya dan tetap bertahan. Tetap suci ‘dalam citra mereka sendiri’. Persis seperti yang Armstrong bilang.

Sendangsono, Ramadhan pertama 2012