Saya tahu sudah banyak yang menulis tentangnya, maka saya akan membuat catatan ini sesingkat mungkin. Lagipula saya tak tahan menahan duka jika harus berlama-lama.

Awalnya bermula dulu sekali di perhimpunan mahasiswa jurusan tempat kami belajar. Kami adalah anggota Himpunan Mahasiswa Sipil ITB. Ketika itu saya hanya mahasiswa baru sedangkan Aheng (begitu kami akrab menyapanya) tengah menikmati pesta kelulusannya. Kami memang tidak berteman dekat, namun di himpunan kami, semua adalah keluarga.

Saya masih ingat dalam sebuah presentasi ia menjelaskan kepada kami−angkatan termuda−makna dari sebuah apresiasi. Bahwa kedatangan sahabatmu di momen terbaikmu sambil nyengir, mampu mengalahkan hadiah termahal sekalipun. Saya juga ingat di malam wisuda ia akhirnya dipreteli habis-habisan oleh sahabat-sahabatnya yang memaparkan beberapa “foto lucu” dirinya. Kita semua tertawa keras sekali. Saya sadar bahwa tawa itu, dan canda itu, menandakan hebatnya kisah yang ia jalani pada masanya. Saya selalu percaya bahwa ia yang tertawa di akhir adalah ia yang mendaki paling terjal.

Aheng pergi dari himpunan dengan meninggalkan beberapa tulisan. Ia banyak menulis saat ia menjabat sebagai Ketua Departemen Kaderisasi dan anggota Badan Perwakilan Anggota. Saya masih menyimpan beberapa salinannya sebagai referensi di Badan Pengurus angkatan saya pada tahun berikutnya. Saya termasuk orang yang tertarik dengan kaderisasi dan suka berdiskusi dengan seseorang dengan minat yang sama. Aheng adalah salah satunya. Ia menjadi narasumber paling tua yang dapat saya raih. Walau tak lagi menjadi mahasiswa, saya merasa Aheng mengemban ideologinya dengan sangat baik. Keputusannya untuk menjadi pengajar murid-murid SD yang tertinggal di Halmahera menjadi bukti bahwa semangat itu bahkan tak pernah surut.

Setahun yang lalu, ia mampir kembali ke Bandung sepulangnya dari mengajar di pedalaman Halmahera. Kami sempat berdiskusi kecil selepas shalat Jumat. Saat itu saya menyampaikan betapa saya ingin merasakan pengalaman yang sama seperti dia. Merasakan arti dari pengabdian. Merasakan tanah air. Merasakan besarnya komitmen untuk rela melihat dunia melaju kencang untuk sesuatu yang lebih primitif nun luhur. Kisah pengabdian Aheng mengajar di tempat terpencil ini kemudian menginspirasi saya pada sebuah keyakinan. Keyakinan yang membawa saya pada satu pernyataan yang saya utarakan di akhir masa jabatan saya sebagai Badan Pengurus.

“Seperti apa profil seorang HMS? Adalah seorang yang mampu membangun ‘sekolah’ di tempat terpencil sekalipun!”

Ya, sebenarnya ini adalah tentang Aheng. Tentang ide aktualisasi nilai luhur perguruan tinggi saat kita bukan lagi menjadi bagiannya. Aktualisasi terbaik adalah ketika kau masih mengamalkan apa yang kau percaya walau kau telah kehilangan status ‘agamamu’. Aheng telah membuktikannya. Saya rasa ia telah berhasil menjadi contoh untuk apa yang kami sama-sama perjuangkan di kaderisasi.

Saya kaget bukan karena Aheng meninggal. Saya kaget karena besarnya rasa kehilangan yang saya rasakan. Tak pernah mengira akan seduka ini.

Teruntuk orang tua Aheng, jika Bapak dan Ibu membaca, saya ingin menyampaikan bahwa putra Bapak dan Ibu adalah putra terbaik bangsa. Manusia paling penuh yang saya kenal.

Oh, tapi Bapak dan Ibu tentu sudah tahu itu. : )

Mengenang Hendra Aripin a.k.a. Aheng (1986-2012)