Yth. Ibu,

Mengapa Ibu bersamanya? Ia hanya seorang narapidana lepas. Dihakimi karena membunuh anaknya yang terdahulu. Binatang yang hanya bisa merampas uang dan kalung yang Mirasti berikan kepadamu. Lalu mengapa Ibu masih bersamanya? Tahukah Ibu dari mana Mirasti mendapat uang-uang itu? Mirasti di sini dihargai lima juta rupiah karena melepas keperawanannya. Ia ditipu oleh temannya dan sekarang ia tidak bisa keluar dari lingkaran setan ini. Kini tak ada lagi orang yang tak berpikiran kotor jika memandang Mirasti. Tahukah Ibu bahwa Mirasti ingin sekali pulang namun tersiksa dengan cibiran miring warga kampung tentangnya? Dan hal terberat bagi Mirasti adalah bahwa ia tidak bisa menyangkal cibiran itu. Saat ini tidak ada lagi tempat yang bisa Mirasti sebut sebagai rumah. Ibu, Mirasti sebenarnya tahu bahwa laki-laki itu selalu mengancam Ibu. Maka demi keselamatan Ibu, Mirasti terus mengirim uang hanya agar dia tidak melukai Ibu.

Yth. Bapak,

Mirasti tidak pernah benar-benar memiliki seorang bapak. Suami ibunya yang sekarang hanyalah seorang kriminal. Saya dengar Bapak-lah yang paling dekat dengan Mirasti. Ia juga mengirimi Bapak uang bulanan itu, bukan? Uang itu untuk Bapak simpan karena hanya itu hal yang Mirasti bisa berikan untuk menjaga hubungan ini. Mirasti tidak ingin lagi kehilangan bapak. Tapi pernahkah Bapak mendengar bahwa Mirasti ingin Bapak mengambil kendali? Memberi perlindungan kepada Mirasti secara penuh. Rela pasang badan demi putri Bapak ini. Atau pernahkah Bapak tahu alasan mengapa Bapak tidak pernah mendengar pernyataan itu dari Mirasti? Maka, saya sampaikan bahwa Mirasti lebih peduli dengan ketenangan hidup Bapak daripada harga dirinya. Bahwa Mirasti tidak ingin secuilpun menyusahkan Bapak. Apa Bapak tahu sekarang Mirasti sudah tidak bisa membedakan siang dan malam? Berbulan-bulan terkurung di kamar bau anyir. Sudah tidak bisa membedakan niat tulus dan akal bulus? Terbayangkah Bapak? Jika tidak, maka saya sampaikan kembali bahwa Mirasti telah berhasil menjaga kedamaian hidup Bapak dan semua orang lainnya. Walau ironisnya itu berarti ia semakin sendiri.

Mirasti,

Saya sama bajingannya dengan semua orang yang kamu kenal. Saya tidak bisa membujukmu untuk percaya bahwa ada tempat kosong di petak ini yang bebas dari kebengisan. Ketakutan terbesar saya adalah bayangan bahwa kamu ternyata menikmati semua ini. Lihat, saya sama bajingannya bukan? Tapi jika benar, lantas habislah sudah. Walau saya paham mungkin bagimu penghabisan lebih baik dari semua kepedihan yang kamu pendam, namun tidakkah kamu menunggu hari baik itu? Hari di mana semuanya berbeda dan kamu menjadi bahagia. Maka dari itu—jika kamu mau (dan sungguh hanya jika kamu mau, Mirasti)—bertahanlah.

Jakarta, 27 September 2012