Malam itu seorang satpam celingak-celinguk di depan sebuah ruangan yang ia jaga. Malam sudah begitu larut, lampu telah dimatikan, tapi seorang pegawai yang masih betah di mejanya membuatnya merasa tak nyaman. Setiap lima menit, ia mengintip ke arah meja Si Pegawai untuk mengecek sekiranya ia hendak pulang. Selang beberapa kali tatapan mereka bertemu. Si Pegawai sebenarnya sadar bahwa kepulangannya ditunggu. Ia merasa tidak enak namun persetan, dokumen kerja masih menumpuk. Si Satpam juga sadar bahwa ia tidak seharusnya bersikap gelisah seperti itu. Ia harusnya kasual saja. Sekarang ia jadi takut kalau Si Pegawai menaruh curiga kepadanya.

Satu jam berlalu dan Si Pegawai tidak menunjukkan gerak-gerik akan pulang. Si Satpam yang lelah menunggu dalam kegelisahan akhirnya membulatkan keputusan. Ia buang ketakutannya dan dengan konyong masuk ke ruangan itu. Yang ditujunya adalah sebuah mesin fotokopi yang terletak di sisi ruangan. Dari sakunya ia keluarkan buku bersampul warna-warni lalu ia letakkan di atas mesin pencetak tersebut. Ia mulai mencetak ulang halaman demi halamannya dengan hati-hati. Bunyi mesin fotokopi yang menyala tentu sampai ke telinga Si Pegawai tapi Si Satpam pura-pura tidak khawatir. Di mejanya, Si Pegawai tahu apa yang dilakukan Si Satpam namun tidak peduli walau sadar bahwa tindakannya tidak diperbolehkan. Bukan karena alasan persetan-dokumen-kerja-masih-menumpuk, melainkan karena toleransi yang memang sudah muncul sejak pertama kali Si Satpam celingak-celinguk.

Setengah jam yang lain berlalu dan Si Pegawai memutuskan mengambil minum di sudut ruangan. Ia berpapasan dengan Si Satpam yang sekarang sedang menggunting kertas-kertas yang ia salin. Kertas-kertas itu ia gunting rapi dan ia susun menjadi buku agar persis seperti yang asli. Si Pegawai membaca sekilas judul buku itu, “Seri Mewarnai Gambar Edisi Binatang”.

Sadar sedang diperhatikan, Si Satpam menoleh ke arah Si Pegawai yang kini telah berada di belakangnya. Mereka sama-sama nyengir. Satu nyengir kikuk, satu nyengir santai.

“Sayang anak, Pak?” kata Si Pegawai.

“Iya Mas, boleh minjem.” jawab Si Satpam sambil tertawa kering.

Buku itu ternyata ia pinjam dari Rohim, kerabat sesama satpam yang tugas jaga di gedung sebelah. Si Satpam rupanya telah berjanji kepada anaknya untuk membelikan buku mewarnai. Dan tanggal keramat itu adalah besok pagi. Itu sebabnya malam ini, dengan cara yang paling efisien, ia harus sukses mendapatkan apa yang anaknya idamkan. Ia tidak ingin si anak kecewa. Ini seharusnya bukan permintaan yang sulit mengingat kebersamaan yang kerap ia tinggalkan demi tugas jaga. Walau kerja, Si Satpam berkeyakinan bahwa pengembanan kewajiban seharusnya tidak dengan mencucukkan hidung seperti kerbau. Kewajiban juga perlu diakali. Ia harap dengan begitu tidak ada yang perlu dikorbankan.

Si Pegawai kembali ke mejanya meninggalkan Si Satpam yang asik menyelesaikan misinya. Sambil duduk ia menerawang jauh menembus dokumen-dokumen kerja yang menumpuk. Berbeda dengan Si Satpam, ia ada hingga larut seperti ini bukan untuk sebuah janji. Walau ia tahu janji tidaklah harus sesuatu yang berat, tapi bukan itu alasan ia bekerja. Dipikir-pikir, yang ia lakukan adalah menepati apa yang tidak pernah ia janjikan. Yang ia punya adalah perasaan bertanggung jawab yang selama ini menjadi pecut motivasi diri. Tak berjanji namun bekerja keras mungkin menjadi konsep yang lebih sederhana, pikirnya. Terbebas dari rasa bersalah dan terbebas dari hutang. Jika satpam itu pandai menjaga mulut, tentu ia tidak perlu mengendap-endap di larut malam seperti sekarang. Mulut tanpa janji menjadi kunci kedamaian hidup.

Tapi kemudian Si Pegawai meragu dalam pikirannya sendiri… benarkah begitu? Benarkah ia tidak pernah berjanji apa-apa? Mengapa janji harus berupa kata jika kau tahu apa yang terkasih harapkan darimu. Tidakkah kau bertekad mewujudkannya jika kau tahu? Mengapa janji harus menunggu untuk diucapkan, jika…

Lalu dalam sepotong momen, (yang mungkin hanya beberapa detik), Si Pegawai segera memutuskan pulang dan mengecup pipi ibunya yang sedang tidur sesampainya di rumah.

Antara Bandung–Jakarta, 21 Oktober 2012