Kami berjalan membelah rimbunnya kebun di kaki gunung dengan dikawal oleh paling tidak selusin warga. Gelapnya malam makin menjadikan jalan potong ini terasa terlalu rapat. Anjing-anjing yang dibawa warga melesak sekali dua kali di antara kaki kami, bolak-balik seakan mereka juga bingung mana jalan yang benar. Beberapa kali sang pawang bersiut kepada si anjing bilamana dikiranya ada kesempatan untuk sekalian menangkap babi di sela-sela pengawalan ini.

Ada sedikit dongkol. Karena sebenarnya dari awal saya meragukan bahwa ini semua adalah untuk alasan keamanan. Saya bahkan tidak percaya cerita yang dituturkan Bapak RW saat kami dijamu di rumahnya. Ya, mungkin benar adanya bahwa ada sepasang buronan yang lari bersembunyi di gunung ini, tapi pengawalan ini tidak mencerminkan konsekuensi dari kebenaran itu. Jika memang berbahaya, seharusnya mereka tegas melarang kami naik. Jika hanya berintensi menunjukkan arah, jumlah ini pun berlebihan.

Entah setelah berapa jam, kami akhirnya dilepas di tengah gunung dengan prosesi pemberian uang ikhlas-tidak-ikhlas. Tak apalah, pikir kami. Uang ini adalah konsekuensi karena kami naik ke sembarang gunung. Walau tanah dan hutan ini bukan milik siapa-siapa, tapi di beberapa daerah rasa kepemilikan menjadi penting untuk dihargai (dan diberi harga). Setidaknya kedudukan si tamu dan sang tuan rumah tidak boleh diganggu gugat. Langit bisa menjadi berbahaya jika tidak dijunjung. Maka kami harus menjaga sikap, kecuali siap menerima reaksi yang lebih keras.

Tapi di atas semua itu, jika memang cerita Bapak RW benar, tampaknya gunung ini populer sebagai tempat persembunyian para tertuduh. Karena alkisah dulu sekali—jauh sebelum kami, dan sebelum para buronan-buronan itu datang—ada seseorang yang terpaksa tinggal di kelebatan hutan ini karena dirinya sedang diburu oleh mantan sahabat baiknya. Orang itu adalah Kartosoewirjo.

Ia terkenal sebagai orang yang memplokamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia di Tasikmalaya pada tahun 1949. Mantan teman baik yang memburu dirinya adalah tak lain dan tak bukan sang presiden pertama, Soekarno. Saat masih remaja, Kartosoewirjo dan Soekarno pernah tinggal bersama di rumah kontrakan milik H.O.S. Tjokroaminoto. Kepada Tjokroaminoto-lah, Soekarno dan Kartosoewirjo (dan juga Semaun; cikal tokoh penggerak komunis) berguru mengenai ilmu keorganisasian dan kebangsaan.

Di rumah kontrakan itu, kepala dan jiwa mereka diisi dengan cita-cita besar yang (sebenarnya) serupa. Kartosoewirjo bercita-cita untuk menjadikan Indonesia* (*yang kala itu adalah sebutan untuk ide kebangsaan tanpa campur tangan asing) negara yang teokratis. Agama yang ia usung adalah Islam. Di lain pihak Soekarno tidak ingin menjadikan Indonesia se-agamis itu. Ia lebih memilih untuk menjadikan Marhaen Si Petani sebagai inspirator dari landasan ideologinya.

Singkat cerita, dua sahabat ini berakhir dengan menghajar wajah satu sama lain. Soekarno yang populer di pemerintahan, bergerak pesat mengendarai Partai Nasional Indonesia. Sedangkan Kartosoewirjo yang tidak ikut dalam sistem pemerintahan, diam-diam menggerakkan massa di desa-desa secara inkonstitusional tanpa ada akses ke media.

Perang di antara mereka ternyata tidak surut bahkan ketika Indonesia yang mereka dambakan sudah lahir. Karena menurut mereka bukan hanya masalah bebas tidaknya dari penjajahan, tapi juga prinsip hidup apa yang mau diemban bangsa ini. Kian hari persaingan ideologi antar kubu semakin tebal. Menjatuhkan tak lagi hanya bermakna tumbang, tapi sampai orangnya mampus kalau perlu. Ide kala remaja yang mereka ciptakan berkembang mengambil kendali atas apa yang mereka anggap suka atau tidak suka, hingga benar atau tidak benar, yang berlaku bahkan untuk seorang sahabat lama.

Akhirnya di tahun 1962, atas perintah Soekarno yang kala itu berstatus presiden, Operasi Pagar Betis digencarkan untuk mematikan perlawan gerilya Kartosoewirjo di gunung-gunung. Tanpa modernitas dan peradaban, tak banyak yang bisa diupayakan seorang tua beserta segelintir pengikutnya ini. Yang ada hanya lapar dan haus yang disanding dengan perasaan akan dibunuh setiap saat. Kartosoewirjo pun habis.

Tapi ia tetap tegak saat dibopong turun. Skenario penangkapan ini nyatanya tak membuatnya mengaduh dan meringsut malu. Ia tak kecewa berakhir sebagai ‘orang yang bersembunyi’. Dipikir-pikir, ia bisa saja mengalah dan bergabung dengan ideologi Soekarno yang kini super-power dan menjadi pahlawan nasional bersamanya, tapi ia tidak memilih itu. Ia menerima akhir ini dengan lantang. Perburuan ini sama sekali berbeda dengan perburuan babi tadi malam. Baginya ini mungkin lebih seperti penjemputan. Penjemputan untuk datang ke reuni yang tidak terlalu kau minati karena malas berdebat dengan mantan sahabatmu.

Saya penasaran. Pernahkah ketika itu mucul tanya di diri Karto dan Karno mengapa mereka berakhir begitu berbeda. Mengapa kepercayaan dan keteguhan prinsip justru menuntut pengorbanan atas sesuatu yang ramah dan bersahabat? Mengapa selalu ada harga yang dibayar untuk cita-cita yang luhur? Azas macam apa sih yang bisa membuat orang tak ragu untuk membuang kenangan masa lalu? Dan mengapa kau, Kartosoewirjo, tidak berteriak marah di tiang eksekusimu, “Mengapa akhirnya justru aku kawan terkaribmu yang harus kau binasakan?!”. Harusnya kau pantas murka. Harusnya kau pantas meraung tak suka.

Tapi saya tidak akan pernah mengerti. Saya bahkan tidak yakin kepada siapa sebenarnya pertanyaan-pertanyaan itu harus ditujukan. Sulit untuk membayangkan menjadi seorang Kartosoewirjo di tengah zaman ini. Bagi kami yang tak pernah mencicipi lahir sebagai budak di tanah tak bertuan, perasaan itu adalah misteri.

Saya hanya bisa menebak adakah kiranya di hari tuanya Kartosoewirjo pernah berdiri di tempat saya kini berdiri. Tepat di puncak tertinggi Gunung Rakutak di pagi hari sambil memandang kemegahan danau di ufuk tenggara. Mengagumi langit dan bumi yang bertemu lirih dalam lembayung yang nun jauh. Menunggu-nunggu apa yang terjadi jika terus memandangnya. Berharap benar bahwa konon katanya cakrawala memiliki jawaban untuk semua pertanyaan.

Maka mungkinkah pemandangan ini yang membuatnya tetap berjalan tegak hingga ke tiang eksekusi. Yang melunturkan semua perasaan manusia yang buruk. Yang meyakinkan pantaskah ia mendapat akhir yang demikian. Yang lalu membuatnya menyungging senyum dan berkata,

“Demi hijau ini dan seratus juta orang di dalamnya yang tidak saya kenal, apalah arti dirimu kawan?”

Desember 2012