Samsara lahir di celah sempit batu gamping
di kolong air, ada tiga riuh yang hadir
tiga-tiganya bisu tuli
Samsara acuh namun tetap kukuh semedi
windu yang berlalu adalah rindu yang membatu
Tuan turun tuk menjemput
Samsara yang mati kaku

Samsara lahir di seberang rumah Mahid
dasar Mahid tak lulus SD, dungu-lah ia
kereta angin dibawa kebut melipir jurang
Samsara mental dari tunggangan yang melayang
bagai kotoran kambing Samsara terjun
tak mau hancur, Ia putuskan menenggak racun
Samsara mati bersama Mahid

Samsara lahir kala hujan menjadi bengis
kala yang tak biasa dan tak tepat
suatu hari fakta menjadi ganjil
tak ada asli, namun kecuali
tak pernah asli, tak pernah suci
merasa begitu fana Samsara kena stroke
pagi masuk ICU, sorenya ia mati

Samsara lahir dalam selongsong peluru
menunggu picu membakar mesiu
menunggu daging tuk ditembus
apapun yang terjadi Ia harus beraksi
tapi dunia rukun tak lagi perang
berakhir menjadi timah tak berguna,
lama-lama mati juga

Habis sudah
Samsara luar biasa naik pitam
ia acungkan jari tengah seraya mengumpat
“Semoga tabah ini membusuk di neraka paling jahanam!“

Azab turun
Samsara lahir prematur
jadi syair buntung

 

Jakarta, 17 Januari 2013