Saat anak-anak itu melambai dan memanggil saya dengan riang, saya sadar bahwa kita sesungguhnya berbicara bahasa yang sama. Tanpa kata-kata yang dibakukan oleh kamus dan tanpa nama yang didaulat oleh bangsa, ada yang sama-sama kita pahami bahkan ketika lidah tak menyuratkan apa-apa. Padanya, saya bisa melihat bibir, mata, dan gestur yang bermain. Mengalunkan siratan-siratan maksud yang lugas layaknya pesona: tak berwujud namun memikat. Di situ, saya mengerti bahwa kata tercipta karena jarak. Maka tanpa jarak, untuk mereka yang ada tepat di hadapanmu, sebuah kata ternyata tidaklah seperlu itu.

Tapi saya mungkin tidak sepenuhnya benar perihal asal mula kata. Karena saya ingat ada sebuah kisah lama yang justru menceritakan sebaliknya: bahwa jarak tercipta karena kata. Kisah ini tertulis dalam Al-Kitab dan populer dikenal sebagai kisah Menara Babel.

Dulu sekali, ada menara yang dibangun begitu tinggi hingga dapat terlihat dari seluruh penjuru bumi. Pembangunannya menjadi cermin kecerdasan dan kemakmuran peradaban di zaman itu. Yang mana menara itu dijadikan tempat berkumpul para manusia yang tersisa pasca musibah Air Bah. Tujuannya sebenarnya tulus, agar manusia berhimpun satu dengan aman dan nyaman. Agar mereka tak perlu tercerai-berai di tempat yang tak mereka pahami.

Namun dikisahkan bahwa Tuhan tidak sepakat. Tuhan, dengan alasan-Nya sendiri, menghancurkan sang menara dalam satu malam. Tak hanya itu, Tuhan juga menghilangkan kemampuan lidah manusia untuk berbicara bahasa yang sama. Sejak saat itu, kata (dan segala upaya penafsirannya) menjadi harga yang harus dibayar agar manusia dapat menyampaikan sebuah maksud. Perbedaan bahasa inilah yang kemudian mengotak-kotakkan manusia menjadi beberapa umat dan mendesak mereka untuk mencari tempat masing-masing di bumi yang luas.

Dari kejauhan saya melihat anak-anak itu sekarang sedang asyik menyantap bekal. Tentu bahagia sekali bisa duduk bersama kawan dan saling pamer lauk makan siang. Saya hanya bisa menerawang dengan pikiran yang mengganggu. Jika merujuk pada kisah tadi, sesungguhnya saya dan anak-anak itu memang dimaksudkan untuk terpisah. Adalah sebuah kesalahan bagi saya untuk datang kemari. Pertemuan saya dan mereka adalah pelanggaran suratan terdahulu. Kebingungan kata seharusnya tetap menjauhkan kami. Saat ini, sebagaimana saya sadar, kata adalah properti yang tak bisa sembarang disebutkan tanpa terlepas dari bangsa mana yang mematenkannya. Kata menjadi demarkasi. Kata adalah demarkasi. Adalah batas dan perbedaan. Adalah jarak.

Tapi sesungguhnya saya tidak peduli. Saya iri dengan keriangan itu. Maka saya tidak peduli apakah saya atau kisah itu yang lebih benar. Yang saya tahu ujung-ujungnya tetap sama: saat tidak ada jarak antara saya dan kamu, saya akan mengerti kamu.

Mungkin ada hikmahnya juga patung jelek itu berdiri menjulang di tengah-tengah taman. Bentuknya yang seperti bintang laut raksasa dengan wajah runyam setidaknya bisa membuat saya dan anak-anak itu bertemu hari ini. Bagai mercusuar, ia memiliki daya pikat tersendiri yang mampu mengumpulkan apa yang tersebar. Daya yang sama yang dimiliki Menara Babel dan seribu menara lainnya.

Sebelum mencapai konklusi, saya tentu perlu mengecam benar poin utama dalam kisah yang saya sadur barusan. Yaitu mengenai alasan Tuhan menghancurkan sang menara. Tidaklah pernah Tuhan murka karena manusia mampu melakukan segalanya. Bukan pula karena manusia lebih memilih hidup bersama dan enggan menjamah bumi yang telah disediakan. Tidak, tidak sekalipun karena itu. Tuhan murka sebab nama-Nya tidak disebut dalam perencanaan manusia. Alih-alih menyebut nama Tuhan, Sang Raja malah berkata, “…menara ini akan sampai ke langit…hingga kita bisa mengintip surga.” “Hingga kita bisa memanah matahari dari puncaknya.”

Bait yang tertinggal pada kisah Menara Babel ini menyampaikan pesan moral yang sesungguhnya. Syukur. Cuma itu yang diminta. Pesan untuk selalu menempatkan syukur pada setiap kebersamaan, kesepahaman, dan pencapaian. Untuk setidaknya tahu nikmatnya menjadi orang yang beruntung dibanding menjadi orang yang berhasil. Agar tidak merasa angkuh hanya karena kita bisa. Agar euforia ini bermuara kepada sesuatu yang henyuk dan bersahaja.

Pada akhirnya saya tahu ini bukan semata-mata tentang ’menjadi dekat’. Namun juga tentang kerendahan hati untuk mau melihat sisi yang berbeda. Setidaknya itu yang Tuhan mau. Ada titik terendah dalam hati ini di mana identitas tak lagi penting. Di mana bahasa menjadi sama. Di mana bahagia menjadi mudah. Pemaknaan terdalam yang memang ditakdirkan untuk tak-terjawantahkan.

Pandangan lagi-lagi jatuh ke seberang taman. Saya melihat anak-anak itu kembali melambai dan mengucapkan terimakasih—namun kali ini kepada patung bintang laut berwajah runyam. Saya tengok selebaran dan baca nama patung itu: Menara Matahari.

Saya terpana patung jelek itu dinamai begitu.

 

Osaka, 20 November 2012