Hari ini berakhir di tempat yang lagi-lagi lain
Kedua kaki ini sudah bengkak dan menolak untuk berjalan
Badan ini sudah mengerut diterpa hujan musim gugur
Tapi kenapa dada ini malah berdegup kencang?
Aku justru merasa darahku menderu

Memang bukan restu yang kubawa dari rumah
Alih-alih sebatang coklat dan sebungkus mie kering
Demi ibuku, berulah apalagi aku sekarang?
Kebengalanku tentu sudah melewati batas
Dan saat dada ini terus berdegup kencang,
Mengapa nafasku setenang angin malam?

Karenanya kutahu di atas sana kebenaran ditawarkan
Bukan yang hakiki, namun kau tahu, mungkin akan membawamu ke yang hakiki
Maka bahadur ini bukan lagi tentang menahan lapar
Ini adalah misi suci untuk kembali dengan penuh bekas luka tertatar

Di antara langkah aku melihat wajah cemara di balik bukit
Hadir dengan pipi yang ingin sekali kucium
Pikiranku yang berisik berbisik,
“Tunduklah dan heningkan ciptamu…”

Darahku menderu
Aku tak bisa meminta kesendirian yang lebih khidmat daripada ini
Saat ini, khidmat yang kuhenyuk taklah sekedar merunduk
Melainkan kontemplasi yang menelurkan emosi
Nun begitu tenang, setenang angin malam

Apa aku betul-betul bernyanyi atau hanya dalam pikiranku saja? Entah
Tapi lucu juga kenapa malah lagu Iwan Fals yang terus melatari khidmat-ku
Mengingatkanku pada tikus salju yang lenyap entah ke mana

Kini kutahu betapa selama ini rohaniku berteriak lapar
Kendati tak cukup kuasaku untuk bisa melengkapinya
Kesetimbangan adalah tentang memaklumi apa yang terjadi di balik bukit di kaki cemara
Tentang ke mana sebenarnya tikus salju pergi
Kubiarkan itu tetap menjadi pertanyaan

Arashiyama, 17 November 2012