Paradoks adalah seperti ini. Adalah bejana air milik Boyle. Adalah gadis bermata sayu di Braga Permai. Adalah dia. Adalah saya yang takut bila kematian datang dengan cepat.

Ini adalah bait dari Kitab yang membuat semuanya menjadi jelas. Ide tak lagi dapat digambarkan seperti yang Willy Karen bilang: ”Everything that humans can imagine is a possibility in reality”.

Kendati apa yang diusungnya begitu menggiurkan, yang selalu terjadi (dan pasti terjadi) adalah sesuatu yang lebih sederhana dan maujud. Saya kira Karen keliru bila menyamadengankan realita sebagai ruang di masa depan di mana segala hal terbuka dan patut didengar. Di mata saya, realita adalah pria tua kolot penggerutu yang enggan menerima opini. Sebuah sosok yang jauh dari gelimang imajinasi.

Robert Boyle dulu pernah mencoba menantang pria tua ini. Boyle berteori akan hadirnya sebuah bejana air yang mampu terisi dan mengisi sendiri. Sebuah paradoks hidrostatis, ia menyebutnya. Boyle berdaulat bahwa suatu hari akan lahir sebuah gerakan perpetual yang tak akan pernah kehilangan energi. Tapi sayangnya ia kalah. Keterbatasan teknologi di masanya mengatakan bahwa tidak ada satupun material yang mampu terbebas dari friksi permukaan kapiler. Bahkan setelah 329 tahun lamanya, hari yang didambakan tak pernah ada. Si pria tua dengan kepala batunya tetap kukuh menutup pintu untuk imajinasi ini. “Mungkin nanti seribu tahun lagi―yang jelas bukan sekarang”, cibirnya kepada Boyle yang kalah.

Tapi benarkah seribu tahun lagi cita-cita Boyle akan terwujud? Siapa peduli. Jikapun benar, sisa-sisa raga Boyle mungkin sudah menjadi minyak bumi dan ia tidak akan pernah tahu. Apapun janji yang ditawarkan hari esok, Boyle mati tanpa pernah mendapatkan apa yang ia inginkan.

Nun jauh di tempat lain, seorang gadis di Braga Permai tahu benar untuk tidak menaruh hati pada hari esok. Ia kenal betul bawa esok tidaklah berbeda dari hari ini di mana segala sesuatunya begitu konvensional dan biasa-biasa saja. Bahwa esok, ia akan tetap di sana memakai seragam birunya dan menawarkan menu kepada saya. Bahwa esok, taplak bolong karena rokok itu tetap digelar siapa pun tamunya, tak peduli cita-cita apa yang sebenarnya tersembunyi di balik sepasang mata sayu itu.

Firasat saya mengatakan jangan-jangan gadis ini adalah Si Bejana Air yang mengambil rupa manusia―mungkin yang bereinkarnasi setelah ditinggal mati Boyle. Dirinya tak lain dari sebuah paradoks. Ia adalah cita-cita yang terpangkas habis oleh friksi realita yang tak bersahabat. Rutinitasnya adalah gerakan perpetual yang menguras energi dalam setiap siklusnya. Ia mungkin tidak menyadarinya sebab terlalu lelah, namun tak ada lagi ruang baginya untuk sekedar bermimpi. Ia cuma bisa pasrah saja terhanyut dalam arus realita yang kolot. Menebak permuaraan nasib mana yang menunggunya.

Boyle maupun gadis itu akhirnya tahu. Tahu bahwa sebagian besar gagasan cemerlang nyatanya tidak memiliki tempat dalam jagat realita.  Jikapun terjadi, ia terjadi dalam sebuah semesta yang lain. Jikapun terwujud, ia terwujud dalam sebuah realita tanpa kita di dalamnya.

Kami bertiga paham bahwa ada komponen kreativitas yang tak mampu dunia ini berikan. Ada ide-ide yang memang cuma bisa menyublim di langit sebelum Kematian dan kroninya menghunuskan tombak-tombak maut dengan lekas.

Ada ketakutan di hati ini yang tak pernah hilang bila memikirkan seberapa cepat realita saya akan berakhir. Saya telah melihat terlalu banyak hal yang membuat saya betul-betul cinta kepada dunia. Saya tidak akan pernah siap. Ini adalah perang yang tidak bisa saya menangkan.

Tapi paradoks ini bukan untuk saya bunuh. Walau hati kecil saya menginginkan Karen benar, saya tahu ada arti dibalik gentar dan takut itu: ada yang berharga yang tak sudi saya tinggalkan.

Kini saya harus memikirkan sebuah penutup. Penutup yang menenangkan walau tak mengubah keadaan. Penutup yang tak perlu tahu benar bagaimana dirinya akan berakhir.

Apapun yang terjadi di kemudian hari tak lain dari sebuah fiksi di hari ini. Begitu juga saya, Boyle, dan gadis bermata sayu itu.

 

Dimulai di Kyoto diselesaikan di Jakarta, November 2012