Sudah lama sebenarnya saya ingin menulis ini. Tapi kamu tahu baru hari ini saya memulainya. Mungkin karena sore ini begitu sepi. Mungkin senyap ini yang menjadi sebab. Senyap yang begitu pekat yang justru membuat bangun bayi yang tertidur. Yang membuat saya tak lagi mampu untuk tidak larut di dalamnya. Bahkan tanpa nafas, tak ada hal yang dapat saya dengar. Tak satu dengung ataupun degup. Tak satu senja. Saya yang biasanya merdeka dalam sepi kini merasa tertekan. Ada apa? Dan ke mana? Adalah kegelisahan langka yang lahir dari sepi ini. Kelangkaan yang cukup untuk berdialog kembali dengan diri saya tanpa ini itu yang mengganggu; tanpa bumbu dan derajat untuk dipertahankan. Mungkin ini kesempatan untuk dapat dengan seksama mendengar suara hati ini. Maka kamu tahu mengapa baru hari ini saya memulainya. Saya harap eksodus ini memiliki andil dalam menepik saya yang hipokrit.

Tapi ini adalah sepi yang saya beli. Tak murah, karena sebenarnya saya bayar mereka untuk tidak berada di sisi saya. Saya bayar senja itu supaya turun perlahan dan diam seperti ninja. Agar tak seorangpun tahu bahwa saya pernah menikmatinya. Maka kamu tahu bahwa saya bukanlah orang yang sepenuhnya berbudi baik. Dan kamu tahu betapa artifisial kesemuanya ini.

Saya adalah mereka yang mampu meninggalkan sesuatu untuk merasakan sesuatu yang lain. Saya adalah mereka yang akhirnya terkapar ditelan senja‒separuh meratap agar bisa kembali pulang. Walau kau tahu nyatanya ratapan itu tak pernah terucap, mungkin sebab saya adalah seorang begundal tengik yang angkuh. Namun oh sesungguhnya, jika saya boleh merasa hingga degup terdalam, hingga mengandai apa jadinya saya tanpa tungkai dan lengan ini; saya merasa kehilangan. Saya merasa telah begitu sombong. Saya merasa masygul karena tak pernah mendedikasikan diri ini untuk siapapun.

Dan kesenyapan absolut ini mengamplifikasi segalanya. Apa yang saya rasakan kian merebak layaknya demam. Betapa kini saya tahu, mereka yang saya tinggalkan ternyata tak pernah benar-benar meninggalkan saya. Seperti malaria, mereka hanya mengendap dalam darah dan ikut ke manapun raga ini pergi. Tertawa dan tidur bersama saya. Menunggu untuk meradang kembali pada sore yang ekstra sepi.

Bahwa ini adalah hukuman. Hukuman untuk dihantui kenangan dan penyesalan atas hal-hal tak terpuji yang saya lakukan. Mereka yang terlupakan kini muncul satu persatu dengan warna yang tak bisa diterka. Memainkan kembali adegan-adegan yang pernah kita jalani bersama dalam senyum dan pantomim. Saya tak lagi bisa membayangkan suara mereka, atau bagaimana mereka menyebut nama saya. Membuat saya ragu, apa mereka benar-benar pernah memanggil saya? Membuat saya tahu, jarak di antara kami tak lagi dapat ditempuh.

Betapa senja ini menjadi ninja dan mereka adalah malaria. Saya tahu tak ada jalan untuk dapat memenangkan kembali masa-masa itu. Permohonan untuk diampuni adalah keistimewaan yang tidak pantas saya dapat. Saya adalah mereka yang terkapar dan tak diizinkan pulang. Rindu adalah duka yang akan saya emban selamanya. Namun jika boleh saya berharap untuk terakhir kali, saya ingin merasa lebih baik walau hanya sedikit. Saya ingin nafas ini bisa sedikit lebih lega sebelum akhirnya berhenti. Itulah alasan mengapa saya menceritakan semua ini kepadamu. Karena saya tahu hanya kamulah yang percaya bahwa ada hal di diri ini yang pantas untuk diselamatkan. Karena sejak dulu kamu adalah segalanya.

Saya ingin menamai kamu Nona. Menjadikan kamu malaikat kecil yang belas asih. Supaya kamu menjadi sosok yang akhirnya mampu memaafkan saya. Saya akan mencintaimu dengan cara apapun. Ingatkan saya pada kedamaian kekalahan. Ingatkan saya bahwa menyerah untukmu adalah hal yang paling saya inginkan. Nona, sungguh saya ingin bisa termaafkan. Jika kamu memang ingin, eksodus ini akan saya jalani kembali. Saya akan berikan sisa usia ini untuk berpikir yang tak terpikirkan. Memberi waktu untuk merindu hingga meradang menjadi batu. Nona, saya mungkin tak mampu memandang matamu lekat-lekat sebagaimana seharusnya. Tapi saya harap kamu dapat merasakan ketulusan ini.

Gunung Kinabalu, 11 Oktober 2013