Ia mengingatnya. Waktu itu ia cuma anak kecil yang terdesak di antara kerumunan manusia yang berdiri di sepanjang trotoar. Di hari itu, jalan utama kota Sofia yang biasanya lengang tampak penuh oleh warga yang turun ke jalan untuk menyaksikan sebuah perhelatan yang tak biasa. Ada sebuah arak-arakan panjang yang melintas lengkap dengan bendera, mobil mewah, dan musik yang diputar. Musik itu terdengar asing dan bendera itu jelas bukan milik Bulgaria. Hanya ada dua warna pada bendera itu, merah di atas dan putih di bawah. Di antara lautan kepala, orang-orang yang tak beruntung mungkin hanya bisa melihat sebuah sedan hitam melintas pelan di antara konvoi. Tapi tidak dengannya. Ia sempat melihatnya. Walau sekilas, ia masih ingat betul sosok pria yang dielu-elukan itu duduk di jok belakang sedan. Dengan mengenakan apa yang tampaknya seperti topi berwarna hitam, pria itu melambai tenang ke kiri dan kanan. Baginya, momen itu adalah kali pertama ia tahu bahwa ada sebuah negara lain di sudut bumi yang bernama Indonesia.

—-

“So, what was that black hat he wore?”

“…and that is called kopiah. It is some kind of national headdress.” jelas saya.

Perjalanan ini menjadi tidak berasa seiring percakapan kami yang kian berkembang. Ia kini berumur 59 tahun. Rambutnya sudah serba putih dan suara beratnya menggantung bersama kulit lehernya yang keriput. Ia adalah supir taksi yang mengantar saya pulang dari Sunbury menuju Windsor.

Pada awalnya saya merasa bersalah kepadanya. Kesalahpahaman membuat kami saling menunggu satu sama lain, dan setengah jam bukanlah penantian yang sebentar di udara sedingin ini. Agar suasana lebih hangat, saya mencoba membuka percakapan. Begitu ia bicara, saya tahu ia bukan dari Inggris. Aksennya berbeda dan ia meminta saya memaklumi kosakatanya yang terbatas. Ia lalu menjelaskan bahwa ia berasal dari Bulgaria. Seperti basa-basi pada umumnya, ia bertanya balik, “How about you?”

Tanpa ekspektasi saya menjawab, “I’m from Indonesia.”

“Oooh, Indonesia!!” mata keriputnya berbinar menatap saya dari spion tengah.

“I remember your first president’s name. His name is Sukarno.”

Kali ini saya yang menatapnya penuh minat.

Harusnya ada banyak hal lain yang bisa dikaitkan bila mendengar kata Indonesia—saya bahkan siap bila ia tidak tahu apa-apa. Tapi Soekarno? Mendengar nama itu keluar dari mulut orang seasing ini membingungkan saya.

Saya coba memastikan, mungkin ia pernah ke Indonesia dan mengingatnya dari nama bandara di Jakarta.

“How can you know? Have you ever been to Indonesia?”

“No, no… But I’ve seen him.”

Oh ini sangat menarik. Saya segera menunjukkan antusias saya dan ia mulai bercerita.

Saya dibawa kembali ke tahun 1961 ketika ia baru berumur tujuh tahun dan masih menetap di Sofia. Ia mengingat hari di mana ada sebuah pawai besar dengan bendera merah putih dan lagu kebangsaan Indonesia diputar melalui pengeras suara. Ia melihat sang presiden duduk di dalam mobil memakai (apa yang 52 tahun kemudian akhirnya ia tahu bernama) kopiah. Saat itu Presiden Indonesia, Soekarno, melakukan kunjungan resmi pertamanya untuk bertemu Sekjen Partai Komunis Bulgaria, Todor Zhivkov. Agenda pertemuan itu sebenarnya untuk membicarakan pendirian kedutaan Indonesia di Sofia sebagai upaya mengeratkan hubungan diplomatik kedua negara. Zhivkov menyambut baik Soekarno yang saat itu sedang ingin membuka jalan agar paham komunis dapat diterapkan di Indonesia. Namun bagi bocah seusianya, informasi itu tidaklah penting. Kala itu ia melihat Soekarno sebagai selebriti―sosok langka yang selalu ramai dikerumun orang. Kesan itu mungkin yang membuatnya masih mengingat nama Soekarno sampai sekarang. Mungkin sama seperti saya yang masih mengingat nama pemeran Wiro Sableng adalah Ken-Ken.

Walaupun begitu, obrolan sepanjang perjalanan ini menunjukkan bahwa ia lebih dari sekedar ingat bila membicarakan Soekarno ataupun Indonesia. Pengetahuannya seputar Indonesia cukup membuat saya terkejut. Ia tahu banyak mulai dari letusan Krakatau, penjajahan Belanda, keragaman pulau dan bahasa, sampai Bhineka Tunggal Ika. Setiap kali selesai bicara, ia melirik saya, menunggu saya membenarkan atau mengoreksi apa yang ia tahu. Sesekali saya memberikan detail-detail tambahan yang makin membuatnya bersemangat.

Obrolan kami akhirnya kembali ke Soekarno. “So how about him?” tanyanya.

Saya berpikir sejenak. Saya tidak terlahir di era Soekarno. Saya tidak bisa memberikan testimoni tentangnya selain dari apa yang saya baca sebagai sejarah. Lagipula menurut saya sejarah tentang Soekarno terlalu berwarna dan ber-versi. Pada akhirnya saya hanya dapat bercerita kepadanya mengenai Nasakom, pendidikan Belanda Soekarno, dan sedikit tentang korelasi nama itu dengan pahlawan Mahabharata yang lahir dari telinga gadis perawan.

Ia mendengarkan dengan seksama. Walau ia sangat tertarik pada apa yang terjadi dengan Nasakom yang dibawa Soekarno, ia tidak menodong saya dengan banyak pertanyaan. Sepertinya ia mengerti bahwa bagi saya komunisme adalah sesuatu yang sangat jauh, yang tak adil bila saya harus berkomentar tentangnya. Lain seperti ia yang hidup di ‘negara palu-arit’ semenjak kecil, yang tahu betul apa rasanya komunis.

Saya berkata, “It is strange that he’s my president and I know him more, but you were closer to him than I ever was.”

Ia menatap saya dan melayangkan senyumnya dari spion tengah. Ia paham ada multitafsir di kalimat saya.

“With so many differences and yet you are one, Indonesia is an amazing country.” simpulnya tulus.

Percakapan lalu berganti didominasi olehnya. Ia mengaku bahwa pembicaraan tadi telah membangkitkan kenangan lamanya. Sambil mengenang, ia menceritakan saya berbagai hal mulai dari pekerjaannya, keluarganya, orang tuanya, hingga kehidupan masa kecilnya di pinggiran kota Sofia. Dengan sangat subjektif, ia mendeskripsikan lingkungan di mana ia tumbuh itu sebagai tempat terindah di dunia.

“You know, I’m a Christian Orthodox. But in where I am from, it is a god-bless to have Moslem as a neighbor.”

Saya tak perlu bertanya apa maksudnya. Saya balas kalimat itu dengan senyum sebagai ungkapan terimakasih. Kalimat-kalimat seperti inilah yang saya butuhkan untuk bisa selalu yakin bahwa hal-hal indah memang ada di luar sana. Saya tahu adanya bahwa etnis muslim di negara-negara Slavia kala itu mengalami diskriminasi. Sebagian besar dari mereka dipaksa untuk mengganti nama dan dilarang menjalankan ibadah. Tapi ia ingin saya mengerti, bahwa hanya karena sejarah menuliskannya demikian, tidak berarti semua orang seperti itu.

Tanpa saya sadari taksi telah melambat dan berhenti di sisi jalan berbatu. Di seberang jalan, hotel tua tempat saya menginap terlihat antik dihujani debu-debu salju yang telah kembali turun. Pembicaraan kami harus berakhir.

Setelah menyerahkan sejumlah poundsterling, saya jabat erat tangannya dan kami menukar ucapan semoga sukses satu sama lain. Saya merasa terapresiasi. Mungkin kepeduliannya yang besar kepada tempat dari mana saya berasal itu yang menyentuh saya. Atau mungkin karena cara berbicaranya yang membuat seakan saya benar-benar bagian dari kenangan lamanya. Saya merasakannya sekarang; bisa menjadi bagian dari kenangan seseorang—walau sangat kecil—adalah perasaan yang sangat membahagiakan. Andai saja ada sesuatu tentang Bulgaria yang bisa saya bagi juga kepadanya.

Saya membuka pintu taksi dan siap menerjang jalan berbatu. Sebelum benar-benar berpisah, segenap rasa hormat membuat saya menyempatkan berbalik dan bertanya,

“What’s your name, Sir?”

“My name is George,”

“I‘ll remember you, George of Bulgaria.”

Februari 2013