Sekiranya nanti ingatan ini tak lagi setajam dulu namun keinginan untuk berkenang itu datang, rasanya perlu jika sekarang saya menulis tentang mereka. Tentang orang-orang indah di pengasingan. Kawan-kawan tanpa nama. Untuknya, saya akan coba buat tulisan ini menjadi sedeskriptif mungkin. Semoga gambarannya bisa selalu teringat bahkan di hari tua. Persis seperti yang terjadi.

Yang Terjadi terjadi di malam 1 Desember 2013. Udara malam tak berbeda dari udara sore tadi, lembab dan lengket. Ke manapun melangkah rasanya tidak mungkin menghindar dari udara bergaram di pulau sekecil ini. Saya tak punya lagi tempat untuk menghabiskan malam. Sempat berpikir untuk terus berjalan saja ke pelabuhan dan tidur di kapal sesuai anjuran seseorang. Lalu sembari berjalan ke sana, saya temukan ide yang lebih baik dan lebih dekat. Sebuah mesjid.

Mesjid ini masih separuh jadi, namun lebih dari cukup untuk saya bisa mandi dan meluruskan kaki. Sempat saya coba tidur di pelatarannya karena di situ lebih sejuk. Walau tak banyak nyamuk, pikiran bahwa saya tak minum pil kina sejak kemarin membuat saya mengurungkan keputusan itu. Saya akhirnya masuk kembali ke ruang wudhu dan menemukan ruangan yang tadinya saya kira gudang kini telah terbuka. Saya melongok ke dalam dan terlihat tiga orang sedang mengaso. Tiga orang yang tidak akan saya lupakan.

Mereka adalah pelancong dari Sorong. Sama kere-nya seperti saya yang suka tumpang tidur di mana-mana. Merasa senasib, dengan ramah mereka mengizinkan saya masuk dan berbagi ruangan kecil itu. Kamar darurat ini kini penuh dengan kami, ransel-ransel kami, dan sebuah kasur tanpa ranjang. Kepada mereka, saya perkenalkan diri saya dari Jakarta. Sebelumnya, selama di Waisai saya tak pernah mengaku kalau saya dari Pulau Jawa. Saya memilih untuk bilang bahwa saya dari Babo. Biasanya dengan begitu saya bisa membuka obrolan yang lebih menarik dengan penduduk setempat. Sedangkan mereka, walau datang dari Sorong, ketiganya asli Makassar. Totok Makassar dengan logatnya yang kental. Saya tidak akan menuliskan nama mereka, karena kami memang tak saling bertukar nama. Kadang apalah artinya nama. Dalam sebuah perjalanan, asal daerah sudah cukup untuk merepresentasikan diri.

Pria pertama memiliki mata bulat yang belotot. Ia yang paling banyak bicara dan selalu punya komentar tentang apapun yang kita bicarakan. Wajahnya bundar dengan pipi berisi. Bibirnya tebal terbuka dengan gigi yang selalu terlihat. Perutnya tambun cocok dengan gaya duduknya dengan sebelah lutut terangkat. Ia terlihat jauh lebih tua dari usianya yang lahir di 1988. Di antara mereka bertiga, si belotot ini yang bicaranya paling cepat. Hampir tak ada kata-katanya yang bisa saya tangkap bahkan jika ia sedang tidak menggunakan bahasa daerah. Pun demikian, ialah yang memaksa saya untuk tidur di atas kasur yang cuma satu-satunya yang mana harus saya tolak dengan halus.

Yang kedua si kurus gondrong. Kulitnya sangat hitam, nyaris sama dengan baju dan kolornya yang juga hitam. Tulang-tulang di wajahnya terlalu kentara saking kurusnya. Alih-alih ada pipi, kulit di sisi wajahnya melesak ke dalam. Giginya besar, panjang, berwarna kuning gading, dengan senyum yang bersahaja saat menawarkan keripik kepada saya. Rambutnya panjang sebahu dan ia kucir di bagian bawah. Sejak saya masuk, mantan anak Mapala ini tak beranjak dari posisinya yang berjongkok dengan punggung merapat pada tembok. Kegiatan favoritnya adalah mendaki gunung, sama seperti saya. Kami sempat bertukar cerita tentang keseruan mendaki gunung-gunung di Jawa dan di Sulawesi.

Ketiga, si paling tua. Tak tahu benar usianya tapi mungkin pertengahan tiga puluhan. Rambutnya tipis, keriting, dan dibiarkan panjang. Sesungguhnya ia memiliki wajah seperti anak-anak namun dengan mulut yang digantungi sepasang kumis lele. Ia bertelanjang dada, menunjukkan perutnya yang bulat di atas celana bahan yang digulung setengah betis. Ia memang bilang kalau ia tak suka pakai pakaian kalau mau tidur. Mengampar pada ubin lebih enak katanya. Dibanding si pertama dan kedua, ia yang paling bisa saya mengerti bicaranya. Saat kata-kata dua lainnya tidak bisa saya tangkap, saya akan menengok kepadanya minta sinyal untuk diterjemahkan.

Malam yang tadinya saya kira akan saya habiskan dengan menahan sabar hingga fajar kini berubah. Teringat sebuah peribahasa Afrika yang tidak saya percaya kebenarannya: “Jika kau ingin pergi cepat, pergilah sendiri. Jika ingin pergi jauh, pergilah bersama”. Buat saya, sendiripun saya bisa pergi jauh. Tapi setelah malam ini, saya pikir mungkin saya yang salah mengartikan peribahasa itu. Mungkin jauh yang dimaksud tak harus suatu tempat yang melintas samudera atau benua. Melainkan sebuah malam menyenangkan di balik bilik ruang wudhu. Malam yang tak mungkin saya dapatkan bila tetap sendiri.

Mereka adalah orang-orang baik. Begitu baik. Dari mereka, saya melihat sebuah kebaikan dalam bentuknya yang paling tradisional. Kesediaan untuk berbagi dan berlaku setara. Kebaikan sederhana yang kadang kini tak terasa lagi ditindihi label tata krama.

Memang, tak ada yang spesial tentang mereka. Tak ada pula kejadian ajaib yang bisa didongengkan ke anak cucu. Obrolan kamipun standar warung kopi. Tapi itu menjadi salah satu malam ternyenyak saya. Ternyenyak dari yang sudah-sudah belakangan ini. Mungkin karena setelah sekian lama akhirnya saya dapat kawan untuk bertukar cakap hingga terlelap. Bersama mereka, nasib ini sepertinya terbagi. Tak hanya empat, melainkan menjadi seribu keping kecil. Yang membuatnya menjadi begitu ringan, remeh, dan tak perlu dipusingkan.

Sebelum subuh sempat menjadi pagi, saya harus pergi ke pelabuhan. Saya sampaikan pamit saya kepada si kurus dan si tua. Saat itu si belotot sedang entah ke mana, mungkin di kamar mandi.

Jong celebes. Semoga saya bisa bertemu kalian kembali berpuluh-puluh tahun nanti, walau hanya dalam kepala.