Manusia tinggal dan hutan-lah yang mengelilinginya. Apapun masanya, di manapun negerinya, siapapun presidennya, hutan selalu ada saat manusia bersemayam. Warna hutan itu mungkin tak selalu hijau. Kicau burungnya juga bisa jadi berubah. Namun layaknya rimba, hutan selalu punya nyanyiannya di pagi, petang, dan malam.

Jika manusia mau berehat sejenak dan mendengarkan dengan seksama, maka mereka akan tahu bahwa tiap nyanyian itu adalah milik para penghuni hutan yang berbeda. Di pagi hari, misalnya, kicauan khas milik burung nuri akan terdengar dengan nadanya yang riuh dan panjang. “Sayuur..”, kicaunya. “Sayuuur…”, ulangnya dari satu dahan ke dahan yang lain. Kadang kalau si nuri sudah malas, tinggal yuur-nya saja yang sampai ke telinga.

Beda lagi dengan kicauan burung murai. Ia tak mengandalkan pita suara seperti halnya burung nuri. Alih-alih bernyanyi, burung murai akan memencet-mencet terompet klakson pada gerobak roti miliknya. “Ngik ngok…ngik ngok..” Entah kenapa bunyi yang seperti anak kena asma itu selalu mengingatkan pada roti meises-nya yang kebanyakan mentega.

Cara yang serupa  juga dilakukan oleh burung jalak. Burung jalak akan memukulkan piring ketopraknya dengan sendok hingga nyaring berdenting. Suara nyaring burung jalak ini sangat unik dan dikenal baik oleh yang lain. Tanpa perlu repot-repot berteriak, seantero hutan tahu bahwa bunyi denting piring di pagi hari pastilah dari gerobak ketoprak miliknya.

Saat matahari naik sepenggal galah, semakin banyak penghuni hutan yang berkicau menjajakan kehadirannya. “Loak!” “Koraan!” “Sampaah!” “Es krim medaan!!” Dengan semangat empat-lima, mereka semua mencoba peruntungan masing-masing di belantara yang tak lagi hijau itu.

Tapi ada juga di antara para penghuni hutan itu yang tetap diam dan baru beraksi saat malam menjelang. Tonggeret pohon salah satunya. Di malam hari, tonggeret keluar sambil memukul kentongan bambu miliknya dalam birama 4/4. Kadang bunyinya terdengar jauh, lalu mendekat, lalu hilang sama sekali. Biasanya tak lama setelah ketukan tonggeret menghilang, aroma nasi goreng yang dimasaknya akan menguar sebagai tanda seorang betina telah menyambutnya.

Yang agak menyedihkan mungkin si burung hantu karena ia selalu sendiri. Saat malam sudah lewat jam duabelas, ia baru hadir dengan bunyi puuh pelan sambil memikul kotak kue putunya yang mengepulkan uap. Tak pernah mengerti benar alasan mengapa burung hantu harus menjual kue putu-nya itu di tengah malam. Di tengah malam hanya ngorok kodok-kodok gendut yang terdengar, plus samar-samar suara Remy Sylado berlatih membaca puisinya yang mbeling. Mungkin sebagai penghuni hutan yang sah si burung hantu tak ingin kehilangan haknya untuk berkicau. Berkicau toh tak harus melulu pagi-pagi bukan?

Maka pagi atau malam, semua punya lagu masing-masing. Semua, kecuali mahoni dan beringin. Mereka tidak bernyanyi. Mereka kelewat besar dan bebal untuk mengerti tangga nada. Walaupun begitu, gemerisik daun mereka yang tergesek angin lumayan bikin hati menjadi sejuk. Seperti jemari ibu yang menyelinap sayang di antara garis rambut.

Hutan ini, apapun warnanya, akan selalu berisik dengan makhluk-makhluk tak terlihatnya. Ada nuri, ada murai, ada jalak, ada tonggeret, ada mahoni, ada Remy Sylado di atas pohon. Semua berdendang kendati teralis berdaun kaca menghalangi wajah mereka. Nyanyian mereka tersiar dalam jadwal yang teratur seperti acara radio. Seperti sebuah konser yang tak kenal henti. Ada yang bilang bahwa nyanyian para penghuni hutan itu adalah doa yang mereka panjatkan untuk Tuhan. Semoga benar, karena alangkah indahnya bila demikian.

Kalau saja manusia mau berehat sejenak dan mendengarkan dengan seksama, mereka akan tahu betapa raya hutan yang mengelilinginya.

Jalan Raya Patok Besi, Subang, 17 April 2014